Maros, katasulsel.com — Api itu datang saat subuh masih setengah mengantuk.
Rabu pagi, pukul 05.30 Wita.
Daeng Maming sedang tidur di kolong rumahnya. Usianya sudah 70 tahun. Badannya renta. Hidupnya sepi. Ia seorang janda. Tinggal sendiri di Dusun Batu Bassi, Desa Je’ne Taise, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

Subuh itu, api tidak memberi salam.
Menurut penuturan Rohani, sumber di lokasi kejadian, api pertama kali muncul dari kandang sapi milik Daeng Maming. Entah dari mana percikannya. Api menjalar cepat. Kayu-kayu kering tak sempat berpikir. Dalam hitungan menit, kandang sapi berubah jadi bara. Lalu merembes ke rumah panggung sederhana yang selama ini jadi satu-satunya tempat ia pulang.

Daeng Maming sempat terjebak.
Seketika tubuhnya terbakar.
Warga berlarian. Teriakan memecah pagi. Seorang cucunya yang sedang bersama Daeng Maming saat itu berhasil diselamatkan. Itu satu-satunya kabar baik pagi itu. Sisanya—adalah kepedihan.

Dua ekor sapi peliharaannya ikut terbakar. Bagi orang kota, dua ekor sapi mungkin hanya angka. Bagi Daeng Maming, itu tabungan hidup. Itu bekal makan hari ini dan besok. Sapi-sapi itu akhirnya terpaksa dijual murah. Bukan karena ingin. Tapi karena luka bakar tak menunggu dompet siap.

Tubuh Daeng Maming melepuh. Sekujur badannya terbakar. Ia dilarikan ke Puskesmas terdekat. Lalu dirujuk ke Rumah Sakit Maros karena kondisinya parah. Beberapa hari dirawat. Kini ia sudah pulang.

Pulang ke mana?
Bukan ke rumah.

Rumahnya sudah jadi abu.
Hari ini, Daeng Maming tidur di kandang ayam miliknya. Ya, kandang ayam. Tanpa dinding layak. Tanpa kasur. Tanpa kepastian. Di situlah ia menunggu hari berganti. Sendiri.

Anak-anaknya ada delapan orang. Tapi hidup terpisah. Ada yang di Sidrap. Ada pula yang jauh sekali—di Merauke. Tak semua bisa pulang. Tak semua punya cukup daya.

Satu hal yang paling menyayat:
hingga hari ini, menurut warga, belum ada bantuan dari pihak pemerintah.
Padahal Daeng Maming adalah janda lansia. Termasuk keluarga tidak mampu. Korban kebakaran. Korban luka bakar. Korban kesendirian.

Alamatnya jelas:
Dusun Batu Bassi, Desa Je’ne Taise, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
Pak Bupati Maros,
kadang pemerintah tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu baliho besar. Cukup satu tindakan kecil, tapi tepat sasaran.
Datanglah.

Lihat sendiri kandang ayam tempat Daeng Maming tidur.

Dengarkan napas seorang ibu berusia 70 tahun yang kehilangan rumah, sapi, dan rasa aman—dalam satu pagi.
Kalau negara masih punya hati,
maka hati itu seharusnya berdenyut di Batu Bassi hari ini. (*)