📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMaros, katasulsel.com — Api itu datang lebih pagi dari pemerintah.
Rabu subuh, pukul 05.30 Wita.
Saat sebagian pejabat mungkin masih terlelap, api sudah lebih dulu bekerja. Tanpa rapat. Tanpa disposisi. Tanpa menunggu anggaran perubahan.
Daeng Maming sedang tidur di kolong rumahnya.
Usianya 70 tahun.
Janda.
Lansia.
Sendiri.
Alamatnya jelas: Dusun Batu Bassi, Desa Je’ne Taise, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Bukan di peta buta. Bukan di ujung dunia.
Subuh itu, api tidak memberi salam.
Ia tidak perlu izin bupati.
Menurut Rohani, warga setempat, api pertama kali muncul dari kandang sapi milik Daeng Maming. Dari mana asalnya, tak ada yang tahu. Tapi api selalu tahu siapa yang paling lemah.
Kayu-kayu kering langsung menyerah.
Kandang sapi jadi bara.
Rumah panggung sederhana ikut terbakar—rumah yang selama ini cukup bagi Daeng Maming untuk hidup tanpa merepotkan negara.
Ia sempat terjebak.
Tubuh renta itu terbakar.
Jeritan memecah pagi yang seharusnya tenang.
Seorang cucunya berhasil diselamatkan.
Itu satu-satunya kabar baik.
Sisanya—hangus.
Dua ekor sapi ikut terbakar.
Bagi pemerintah, dua sapi mungkin bukan prioritas.
Bagi Daeng Maming, itu seluruh prioritas hidupnya.
Sapi itu tabungan.
Sapi itu rencana makan.
Sapi itu jaminan hari tua—karena negara tak pernah datang lebih dulu.
Sapi-sapi itu akhirnya dijual murah.
Bukan karena ingin.
Tapi karena luka bakar tidak bisa menunggu jadwal kunjungan pejabat.
Tubuh Daeng Maming melepuh.
Dirawat di Puskesmas.
Dirujuk ke RS Maros.
Beberapa hari.
Lalu pulang.
Masalah klasik muncul:
pulang ke mana?
Rumahnya sudah jadi abu.
Tak ada yang bisa ditempati.
Tak ada yang bisa dipamerkan di laporan kinerja.
Hari ini, Daeng Maming tidur di kandang ayam.
Ya, kandang ayam.
Bukan metafora.
Bukan satire.
Fakta.
Tanpa dinding layak.
Tanpa kasur.
Tanpa rasa aman.
Di situlah seorang warga Kabupaten Maros berusia 70 tahun menghabiskan malam.
Sementara pemerintah—entah—masih menyusun agenda.
Anaknya delapan orang.
Hidup terpencar.
Ada di Sidrap.
Ada di Merauke.
Tak semua bisa pulang cepat.
Tak semua punya cukup biaya.
Lalu negara di mana?
Hingga hari ini, menurut warga,
belum ada bantuan dari pemerintah daerah.
Padahal ini bukan kasus samar.
Bukan bencana misterius.
Bukan warga ilegal.
Ini janda lansia.
Keluarga tidak mampu.
Korban kebakaran.
Korban luka bakar.
Korban kesendirian—di wilayah administratif yang dipimpin langsung oleh Bupati Maros.
Pak Bupati Chaidir Syam,
kadang kepemimpinan tidak diuji di ruang rapat.
Tidak di baliho.
Tidak di spanduk ucapan selamat.
Kepemimpinan diuji di kandang ayam.
Tempat seorang warganya tidur karena rumahnya habis terbakar.
Datanglah.
Bukan sebagai pejabat.
Tapi sebagai manusia.
Lihat sendiri kandang ayam itu.
Dengar napas Daeng Maming.
Rasakan sunyi yang terlalu panjang untuk ukuran negara yang katanya hadir.
Kalau pemerintah daerah masih punya hati,
maka hati itu
seharusnya tidak sedang sibuk pencitraan,
melainkan berdenyut
di Batu Bassi
hari ini. (*)






Tinggalkan Balasan