📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, katasulsel.com Musrenbang biasanya identik dengan kursi plastik, pidato berlapis, dan warga yang datang sekadarnya. Tapi Jumat itu, di halaman Kantor Camat Panca Lautang, pakem lama seperti dipatahkan. Kursi habis. Orang berdiri. Panitia kelimpungan. Pemerintah justru tersenyum.

Sekitar 700 orang datang. Padahal kursi hanya disiapkan 600. Ini bukan konser dangdut. Ini Musyawarah Perencanaan Pembangunan. Yang datang bukan hanya aparat desa, tapi petani, pemuda, ibu-ibu PKK, kepala sekolah, forum anak, sampai pelaku UMKM. Lengkap. Ramai. Riuh.

Musrenbang Kecamatan Panca Lautang untuk penyusunan RKPD Sidrap 2027 berubah jadi semacam “pesta demokrasi pembangunan”. Yang bicara bukan cuma pejabat. Warga ikut angkat suara—secara harfiah dan simbolik.

Camat Panca Lautang, Muhammad Basri, tampak paling jujur mengakui: ini di luar dugaan. Sepanjang kariernya mengikuti Musrenbang, baru kali ini jumlah peserta menembus angka ratusan dengan antusiasme yang tak dibuat-buat. Ini bukan kehadiran karena absensi. Ini kehadiran karena harapan.

Menariknya, Musrenbang kali ini tidak berdiri kaku. Pemerintah menyelipkan layanan nyata: stan UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga penyerahan santunan BPJS Ketenagakerjaan. Pesannya jelas—perencanaan jangan hanya bicara masa depan, tapi juga menyentuh hari ini.

Dari ruang perencanaan, 108 usulan mengalir dari 10 desa dan kelurahan. Isinya klasik tapi krusial: irigasi, jalan, pasar, sekolah, layanan kesehatan, sampai bedah rumah. Tidak ada yang muluk. Semua berangkat dari kebutuhan paling dasar.

Kepala Bapperida Sidrap, Herwin, memberi penegasan yang penting: tidak ada usulan yang “jatuh di meja”. Semua masuk sistem. Semua tercatat. Tinggal satu hal yang menentukan: prioritas dan anggaran. Kalimat yang jujur, sekaligus realistis. Karena pembangunan, cepat atau lambat, selalu bertemu soal kemampuan fiskal.

Di tengah kerumunan itu, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyebut Musrenbang Panca Lautang sebagai yang terbesar di Sidrap. Pernyataan itu bukan basa-basi. Angka berbicara sendiri.

Syahar tidak larut dalam pujian. Ia menarik garis besar arah pembangunan: visi Sidenreng Rappang Maju dan Sejahtera. Diterjemahkan ke dalam 14 program unggulan, dengan empat tujuan inti—ekonomi rakyat, pendidikan dan kesehatan, penguatan keagamaan, serta penyelesaian infrastruktur.

Yang menarik, Syahar kembali menekankan sektor pertanian. Bukan sekadar tanam dan panen, tapi hilirisasi. Kata yang sering terdengar teknokratis, tapi maknanya sederhana: hasil petani jangan berhenti di sawah. Harus naik nilai. Harus masuk pasar.

Lalu satu kalimat yang langsung mencuri perhatian warga Panca Lautang: Bendungan Torere.

Proyek yang dijadwalkan mulai 2026 itu bukan sekadar beton dan air. Bagi Panca Lautang, itu soal keluar dari status “ujung jaringan irigasi”. Soal keadilan air. Soal produktivitas. Soal masa depan pertanian.

“Insya Allah,” kata Syahar.

Di politik, kata itu sering terdengar normatif. Tapi di hadapan ratusan warga yang datang tanpa diundang, kata itu berubah menjadi janji yang diawasi bersama.

Musrenbang hari itu memberi satu pelajaran sederhana: ketika rakyat merasa didengar, mereka datang dengan sendirinya. Tanpa baliho. Tanpa mobilisasi. Tanpa amplop.

Dan Panca Lautang, untuk satu hari itu, menjadi etalase bahwa perencanaan pembangunan bisa hidup—asal tidak diperlakukan sebagai rutinitas belaka. (*)