Jakarta, katasulsel.com – Istana bilang tidak ada reshuffle. Titik. Tapi politik Indonesia ini lucu: belum direshuffle saja, kursi sudah ada yang kosong.

Yang pindah siapa? Thomas Djiwandono. Dari Wakil Menteri Keuangan, meloncat ke Deputi Gubernur Bank Indonesia. Kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, itu bukan reshuffle, itu “penugasan”. Oke, kita terima dulu definisinya.

Masalahnya, di politik, rakyat jarang percaya kata “kebetulan”. Apalagi kalau yang pindah adalah keponakan Presiden Prabowo Subianto.

Prasetyo ngotot menjelaskan:

“Enggak ada reshuffle.”

Tapi publik menjawab dalam hati:

“Iya, iya… belum saja.”

Kursi Wamenkeu sekarang kosong. Dan dalam politik, kursi kosong itu seperti bangku di terminal—sebentar saja, pasti ada yang duduk. Persoalannya, siapa? Dan apakah sekalian bangkunya dipindah ke ruangan lain?

Rumor pun mulai beranak-pinak. Ada tujuh menteri yang disebut-sebut masuk daftar “siap dievaluasi”. Dari Menlu sampai Menpar. Lengkap. Kalau ini daftar belanja, tinggal ke kasir.

Lalu muncul lagi nama Budisatrio Djiwandono, adik Thomas. Katanya masuk bursa Menteri Luar Negeri. Sinyalnya malah datang dari Ketua Komisi I DPR. Bukan dari Istana. Ini politik, bocornya sering bukan dari pipa utama.

Budisatrio sendiri santai. Masih duduk di DPR, masih bilang “tanya Pak Utut saja”. Bahasa politiknya jelas: “saya tunggu perintah.”

Pengamat politik Arifki Chaniago lebih jujur. Katanya, kursi kosong jarang berhenti sebagai urusan teknis. Biasanya jadi bola liar. Dan bola liar ini sekarang sudah menggelinding di lorong Istana. Tinggal nabrak pintu yang mana.

Presiden Prabowo punya dua pilihan klasik:

  1. Minimalis – isi Wamenkeu, selesai, bubar jalan.
  2. Sekalian berbenah – satu kursi kosong, sekalian atur ulang ruangan.

Politik Indonesia biasanya tidak suka setengah-setengah. Kalau bisa sekalian, kenapa tidak?

Jadi, ketika Istana bilang tidak ada reshuffle, itu bisa berarti dua hal:

  • Belum sekarang
  • Belum diumumkan

Yang jelas, publik jangan kaget kalau beberapa minggu atau bulan ke depan, tiba-tiba ada menteri pamit tanpa salam perpisahan. Di politik, reshuffle sering datang seperti hujan: diawali gerimis, ditutup badai.

Untuk sementara, kita catat saja: belum reshuffle, tapi kursi sudah goyang. Dan di republik ini, kursi yang goyang jarang kembali diam.(*)