Soppeng, katasulsel.com — Ia tidak wafat di tengah tugas besar. Tidak pula dalam peristiwa heboh yang mengundang kamera.

Brigpol Muammar pergi dengan cara yang sederhana—seperti hidup dan pengabdiannya selama ini.

Kamis malam, 29 Januari 2026, pukul 19.40 Wita, di rumahnya di Appanang, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, anggota Ba Sidokkes Polres Soppeng itu mengembuskan napas terakhir. Tanpa sirene. Tanpa headline besar. Hanya duka yang pelan-pelan menyebar.

Namun institusi tempat ia mengabdi tahu betul: kesetiaan tak selalu hadir dalam kebisingan.

Jumat, 30 Januari 2026, Polres Soppeng mengantarnya dengan upacara pemakaman kedinasan. Sebuah penghormatan terakhir—bukan formalitas kosong, melainkan pengakuan bahwa Brigpol Muammar adalah bagian dari perjalanan panjang Polri di daerah ini.

Barisan berseragam berdiri rapi. Langit seolah ikut menunduk. Keluarga, kerabat, dan rekan sejawat hadir dengan wajah-wajah yang menahan kehilangan. Di antara doa dan isak, satu pesan terasa kuat: ada polisi yang telah menunaikan tugasnya sampai akhir.

Wakapolres Soppeng, Kompol Sudarmin, S.Sos., mewakili Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memimpin penghormatan terakhir itu. Ia hadir bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai rekan seperjalanan.

“Kami keluarga besar Polres Soppeng turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan,” ujarnya lirih.

Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya tersimpan satu kenyataan: institusi ini kehilangan satu roda kecil yang selama ini membuat mesin tetap berjalan.

Kapolres Soppeng, melalui Wakapolres, menyampaikan apresiasi atas dedikasi Brigpol Muammar. Selama berdinas, ia dikenal loyal, bekerja tanpa banyak suara, dan hadir sebagai pelayan—bukan sekadar pemegang pangkat.

“Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi institusi dan rekan-rekan sejawat,” ucapnya.

Di Polres Soppeng, mungkin banyak yang berpangkat lebih tinggi. Tapi tidak semua meninggalkan kesan yang sama.

Brigpol Muammar telah dimakamkan. Seragamnya dilipat. Namanya tak lagi dipanggil saat apel.

Namun teladan pengabdiannya—itulah yang diharapkan tetap hidup. Menjadi pengingat bahwa polisi, pada akhirnya, adalah manusia yang bekerja dengan hati, dan pulang dengan kehormatan.(*)