Sidrap, Katasulsel.com — Demokrasi tidak pernah lahir dari jalan lurus. Ia selalu berliku, berisik, bahkan kadang melelahkan. Tetapi justru di situlah nilainya diuji.
Itu pula yang terjadi di Aula SMKN 1 Sidrap. Ratusan alumni lintas angkatan berkumpul. Bukan untuk nostalgia semata. Mereka datang membawa hak suara, ego, harapan, dan kepentingan masing-masing.
Pemilu Raya IKA SMEA/SMKN 1 Sidrap bukan seremoni. Ia adalah pertarungan gagasan—dan juga ketahanan mental.
Prosesnya tidak mulus. Dinamikanya terasa. Debat mengemuka. Suasana sempat mengeras. Namun demokrasi tetap berjalan. Alot, tetapi sah. Melelahkan, tetapi jujur.
Ketua Panitia Mubes II, Sudarmin, menyebut proses itu sebagai keberhasilan kolektif. Bukan karena tanpa masalah, tetapi karena semua masalah diselesaikan di dalam forum. Di hadapan ratusan alumni. Dengan satu prinsip: suara terbanyak adalah kehendak bersama.
Hasilnya tegas. Anwar Halim kembali dipercaya memimpin IKA SMEA/SMKN 1 Sidrap. Ia meraih 298 suara. Jauh meninggalkan pesaingnya, Dr. Agus Syam, yang memperoleh 54 suara. Angka-angka itu berbicara lugas. Tidak butuh tafsir berlapis.
Namun yang menarik bukan sekadar siapa menang dan siapa kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana para alumni bersikap setelahnya.
Anwar Halim, dalam pernyataan kemenangannya, tidak memilih euforia. Ia memilih ajakan. Kontestasi, katanya, telah selesai. Tidak ada lagi sekat. Tidak ada lagi kubu. Yang ada hanya satu rumah besar bernama almamater.
Bahasanya sederhana. Tetapi maknanya berat. Sebab mempertahankan persatuan pasca-pemilu sering kali lebih sulit daripada memenangkan suara.
Sikap dewasa juga ditunjukkan Dr. Agus Syam. Tanpa menunggu lama, ia menyampaikan ucapan selamat. Tidak ada narasi luka. Tidak ada bahasa perlawanan terselubung. Yang ada hanya komitmen untuk kembali merangkul dan membesarkan organisasi.
Di titik inilah demokrasi menemukan martabatnya. Bukan pada kotak suara, tetapi pada kesediaan menerima hasil.
Mubes II IKA SMEA/SMKN 1 Sidrap pun ditutup.
Bukan dengan gemuruh, melainkan dengan kesadaran baru: bahwa alumni bukan sekadar kumpulan nama dalam daftar angkatan, tetapi kekuatan sosial yang bisa dewasa dalam perbedaan.
Demokrasi memang berjalan alot. Tetapi ia sampai di tujuan. Dan Anwar Halim, untuk kali ini, masih dipercaya memegang kemudi. (*)






Tinggalkan Balasan