Sidrap, katasulsel.com — Angka tidak pernah bohong.
Tapi ia sering dingin.
Sidrap membuat angka itu hangat.
Tahun 2025, Gabah Kering Panen Sidrap melonjak ke 663.819 ton. Naik 129 ribu ton dari tahun sebelumnya. Persis 24,23 persen. Angka yang terlalu simetris untuk disebut kebetulan. Ini pola. Ini kerja. Ini kepemimpinan.
Yang menarik bukan sekadar naiknya produksi. Tapi siapa yang memimpin saat angka itu tumbuh.
Syaharuddin Alrif bukan bupati yang datang dari ruang ber-AC lalu mengajari petani soal lumpur. Ia lahir dari lumpur itu sendiri.
Anak petani. Kata yang sederhana, tapi mahal maknanya. Ia tahu kapan sawah butuh air, kapan petani butuh harga yang adil, dan kapan negara harus hadir—bukan sekadar mencatat.
BPS mencatat kenaikan produksi. Tapi BPS tidak mencatat rasa percaya diri petani yang tumbuh bersamaan dengan harga GKP yang naik dari Rp4.800 ke Rp6.800 per kilogram. Negara mencatat nilai produksi. Petani merasakan nilai hidup.
Tahun 2024, padi Sidrap bernilai Rp2,56 triliun.
Tahun 2025, nilainya melonjak ke Rp4,51 triliun.
Ada Rp1,94 triliun tambahan yang berputar di desa. Bukan di grafik. Bukan di pidato. Tapi di warung, di sekolah anak petani, di pupuk yang dibayar lunas.
Yang sering dilupakan: kenaikan ini bukan hasil satu musim tanam. Bukan keberuntungan cuaca. Bukan pula sulap statistik. Ini akumulasi satu tahun penuh. Artinya: ada konsistensi kebijakan. Ada kendali lapangan. Ada pemimpin yang tidak alergi turun ke sawah.
Sidrap hari ini seperti sedang bicara pelan tapi tegas kepada Indonesia:
jangan remehkan daerah agraris yang dipimpin orang yang paham akar rumput.
Di banyak tempat, pertanian hanya jadi jargon. Di Sidrap, ia menjadi identitas. Sawah bukan latar belakang. Ia panggung utama.
Dan, Syaharuddin Alrif?
Ia tidak sedang membangun citra.
Ia sedang mewarisi ingatan—bahwa dari petani, Sidrap tumbuh. Dan oleh anak petani, Sidrap melompat.
Kadang, kepemimpinan terbaik memang lahir dari tanah. Bukan dari menara.
Sidrap membuktikannya. (*)






Tinggalkan Balasan