📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, katasulsel.com — Angka tak pernah bohong. Tapi ia sering terasa dingin.
Data kemiskinan terbaru di Sulawesi Selatan berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan satu kenyataan telanjang: jarak antardaerah makin terlihat jelas.

Di barisan paling rendah, ada Kota Parepare dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Angka kemiskinan mereka berada di kisaran 4 persen. Disusul Wajo dan Luwu Timur yang bertahan di sekitar 5 persen.
Secara statistik, daerah-daerah ini sudah menurunkan beban paling berat.

Artinya sederhana: dari 100 orang, hanya 4 sampai 5 yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Bukan berarti semua sudah sejahtera. Tapi setidaknya, tekanan hidup paling ekstrem berhasil dipersempit.

Lalu kita melihat ke sisi lain tabel.
Di sana ada Kabupaten Enrekang.

Angkanya 10,73 persen.
Lebih dari dua kali lipat Parepare dan Sidrap.

Di Enrekang, dari setiap 10 warga, satu masih hidup dalam keterbatasan serius. Ini bukan sekadar angka. Ini cerita tentang dapur yang harus dihemat, anak sekolah yang berhitung dengan biaya, dan pekerjaan yang tak selalu tersedia.

Perbedaan ini bukan soal siapa paling pintar mengelola angka.
Ini soal akses ekonomi, struktur wilayah, dan peluang hidup.

Parepare diuntungkan sebagai kota jasa. Sidrap ditopang pertanian dan perputaran ekonomi yang relatif stabil. Wajo dan Luwu Timur punya basis produksi yang lebih mapan. Sementara Enrekang harus berhadapan dengan tantangan geografis, akses pasar, dan kesempatan kerja yang lebih sempit.

Ironinya jelas:
📉 Parepare, Sidrap, Wajo, Luwu Timur sudah bicara kualitas hidup.
📈 Enrekang masih sibuk menurunkan kuantitas penderitaan.

Angka kemiskinan tidak pernah netral. Ia selalu menunjukkan siapa yang sudah melaju, dan siapa yang masih tertahan.

Dan bagi Enrekang, 10,73 persen bukan sekadar statistik tahunan.
Itu adalah tanda bahwa pekerjaan rumah belum selesai—bahkan belum mendekati akhir.

Karena di balik setiap persen, ada manusia.
Dan bagi mereka, hidup bukan soal perbandingan.
Tapi soal bertahan hari demi hari. (*)