📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Jakarta, katasulsel.com — Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) tiba-tiba muncul di puncak daftar nasional. Bukan karena proyek mercusuar. Bukan pula karena bangunan fisik. Sidrap justru unggul di urusan yang jarang jadi bahan lomba politik: pemeriksaan dini kanker serviks.

Tahun 2025, Sidrap mencatat 15.679 perempuan menjalani pemeriksaan DNA HPV. Angka ini menempatkan Sidrap di peringkat pertama nasional dalam pelaksanaan skrining HPV, mengungguli daerah-daerah dengan populasi jauh lebih besar.

Atas capaian itu, Kementerian Kesehatan RI memberikan penghargaan kepada Pemkab Sidrap dalam acara Indonesia Satu Melawan Kanker di South Quarter Dome, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Februari 2026. Penghargaan diserahkan langsung Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, disaksikan Dirjen Penanggulangan Penyakit Murti Utami serta Ketua YKPI Linda Gumelar.

Yang menarik, capaian Sidrap ini bukan hasil satu kegiatan besar, melainkan akumulasi kerja lapangan yang panjang dan senyap. Pemeriksaan dilakukan di 11 kecamatan, menjangkau perempuan hingga ke level desa dan kelurahan.

Wakil Bupati Sidrap Nurkanaah hadir menerima penghargaan tersebut, didampingi Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sidrap, Mu’minah. Dalam keterangannya, Nurkanaah menegaskan bahwa capaian ini lahir dari kerja kolektif lintas sektor.

“Terima kasih kepada Direktur Tirta Medical Centre atas kerja sama pemeriksaan dini, serta seluruh jajaran Dinas Kesehatan, camat, kepala desa, lurah, kader posyandu, dan kader PKK yang bekerja langsung di lapangan,” ujarnya.

Di situlah letak keunggulan Sidrap. Program skrining HPV tidak berhenti di fasilitas kesehatan. Ia dibawa ke komunitas. Aparat wilayah, kader PKK, hingga posyandu dilibatkan aktif. Pendekatannya persuasif, bukan instruktif.

Dalam isu kanker serviks, tantangan terbesar bukan teknologi, melainkan kesediaan perempuan untuk diperiksa. Banyak daerah tersendat bukan karena alat kurang, tapi karena partisipasi rendah. Sidrap justru berhasil memecahkan masalah ini.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif sejak awal menempatkan program kesehatan preventif sebagai bagian dari pelayanan dasar, bukan program tambahan. Deteksi dini dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar capaian statistik tahunan.

Acara Indonesia Satu Melawan Kanker sendiri digelar sebagai bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kanker, mendorong deteksi dini, dan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan penyakit tidak menular.

Sidrap memberi contoh bahwa kebijakan kesehatan tidak selalu harus mahal dan spektakuler. Yang dibutuhkan justru konsistensi, kedekatan dengan warga, dan keberanian masuk ke isu-isu yang tidak selalu populer.

Di tengah banyak daerah berlomba membangun yang tampak, Sidrap memilih fokus pada yang tak terlihat tapi menentukan: kesehatan perempuan.

Dan dari kerja sunyi itu, Sidrap justru terdengar paling keras—di tingkat nasional. (edybasri)