📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppKatasulsel.com — Siapa bilang leg kedua semifinal cuma formalitas? Manchester City justru menjadikannya ajang pamer kuasa, seperti tim yang ingin mengirim pesan keras ke final: kami datang bukan sekadar menang, tapi mendominasi.
Di Etihad, Kamis dini hari WIB, City menyingkirkan Newcastle United dengan cara yang dingin dan sistematis. Skor 3-1 di leg kedua bukan sekadar pelengkap kemenangan 2-0 di laga pertama, melainkan penegasan bahwa jarak kualitas kedua tim masih lebar. Agregat 5-1 menutup pintu harapan The Magpies tanpa basa-basi.
Pep Guardiola tidak menurunkan City versi “aman”. Justru sebaliknya. Meski sudah unggul agregat, The Citizens menekan sejak menit awal—seolah ingin menyelesaikan perkara sebelum Newcastle sempat berpikir. Hasilnya langsung terlihat. Baru tujuh menit, Omar Marmoush mencetak gol pembuka. Etihad belum sempat duduk, City sudah menggandakan tekanan.
Menariknya, bukan sekadar soal gol cepat. City bermain seperti mesin yang dipoles rapi: Marmoush, Tijani Reijnders, dan Antoine Semenyo silih berganti menusuk pertahanan Newcastle. Bukan permainan terburu-buru, melainkan kontrol penuh dengan intensitas tinggi—gaya khas Guardiola ketika ingin “membunuh” laga lebih awal.
Newcastle sebenarnya sempat bernapas. Anthony Gordon mendapatkan peluang emas di menit ke-21. Tapi di momen krusial itu, James Trafford tampil tenang, menepis harapan yang nyaris tumbuh. Dari situlah arah laga kembali jelas: ini milik City.
Menit ke-29, Marmoush mencetak gol keduanya. Tiga menit kemudian, Reijnders menyempurnakan dominasi dengan gol ketiga. Skor 3-0 di babak pertama terasa seperti vonis. Newcastle bukan tak berusaha, tapi setiap upaya mereka mentok di tembok biru langit yang terlalu rapat dan terlalu rapi.
Babak kedua, Eddie Howe mencoba berjudi. Anthony Elanga dan Yoane Wissa dimasukkan untuk memberi energi baru. Strategi itu sempat memberi hasil. Elanga mencetak gol pada menit ke-62 lewat aksi individu yang memecah konsentrasi lini belakang City. Skor berubah 3-1, sekilas menghadirkan ilusi perlawanan.
Namun, hanya ilusi. City kembali mengontrol tempo. Bola berputar, ruang ditutup, dan Newcastle dipaksa mengejar bayangan. Tak ada kepanikan, tak ada drama. City memainkan sisa laga dengan kepala dingin, seperti tim yang tahu persis kapan harus menekan dan kapan cukup menunggu.
Peluit panjang pun berbunyi. Manchester City melangkah ke final Carabao Cup bukan dengan gaya bertahan, melainkan dengan pernyataan tegas: dominasi mereka masih utuh. Newcastle boleh pulang dengan satu gol hiburan, tapi malam itu Etihad kembali menjadi panggung kekuasaan—dan City tampil sebagai penguasanya.(*)






Tinggalkan Balasan