📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppKendari, katasulsel.com — Teluk Kendari terlalu lama memikul beban. Puluhan bangkai kapal tergeletak seperti patung kaku bertahun-tahun—mengendap, berkarat, dan perlahan membunuh perairan. Selasa pagi, 3 Februari 2026, kota ini akhirnya bernapas.
Bukan dengan narasi, tapi dengan satu bunyi palu. Sekretaris Daerah Kota Kendari, Amir Hasan, memukul badan kapal di kawasan Ruang Terbuka Publik Papalimba. Simbol sederhana, tapi maknanya besar: era pembiaran selesai.
Pembersihan bangkai kapal ini bukan sekadar proyek kebersihan. Ini operasi penyelamatan. Teluk Kendari selama ini mengalami pendangkalan, alur nelayan terganggu, dan wajah pesisir kota tercoreng. Bangkai kapal bukan hanya merusak pemandangan, tapi juga menggerogoti ekosistem laut dari dalam.
“Kalau bukan sekarang kita selamatkan, nanti anak cucu kita hanya akan dengar cerita pernah ada teluk,” ujar Amir Hasan. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menyentil: Teluk Kendari sudah berada di titik kritis.
Data pemerintah menunjukkan skala persoalan. Ada 30 bangkai kapal tersebar di delapan kelurahan di sekitar teluk. Delapan belas di antaranya akan dibongkar langsung oleh pemerintah.
Dua dibongkar mandiri oleh pemilik. Delapan lainnya diperbaiki. Sisanya masih dalam proses identifikasi. Semua pemilik kapal diminta menandatangani pernyataan bermaterai—tak ada lagi cerita bongkar sepihak atau lepas tangan.
Yang menarik, Pemkot Kendari tidak memilih jalan pintas. Bangkai kapal dilarang dibakar atau ditenggelamkan. Alasannya jelas: dua metode itu hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan. Lingkungan tak boleh dibayar dengan kecepatan.
Langkah ini juga bukan berdiri sendiri. Papalimba dan Teluk Kendari sedang disiapkan sebagai etalase kota. Kawasan ini dirancang menjadi pusat wisata bahari sekaligus lokasi agenda besar: HUT Kota Kendari ke-195, APEKSI Regional, hingga pertemuan internasional UCLG ASPAC pada Mei mendatang.
Pemerintah menargetkan pembersihan rampung 3 Mei 2026, bertepatan dengan agenda Wisata Pungut Sampah. Sebuah simbol yang pas: membersihkan teluk, membersihkan cara pandang lama terhadap pesisir.
Teluk Kendari sedang diberi kesempatan kedua. Dari kuburan kapal menuju ruang hidup. Dari tempat rongsokan menjadi kebanggaan kota. Dan semuanya dimulai dari satu palu yang akhirnya berani diketukkan.(*)






Tinggalkan Balasan