📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppKendari, katasulsel.com — Wali Kota Kendari tidak ingin angka hanya jadi arsip.
Rabu (4/2), Siska Karina Imran mengumpulkan seluruh OPD terkait. Topiknya sensitif. Tidak populis. Tidak fotogenik. Tapi menentukan masa depan kota: stunting.
Data dibuka apa adanya.
Sekitar 12 ribu balita di Kendari berada dalam risiko stunting. Dari jumlah itu, lebih 500 anak sudah tercatat stunting, dengan 462 kasus terkonfirmasi hingga Desember 2025. Angkanya naik. Tipis, memang. Tapi cukup bagi wali kota untuk menekan rem.
“Ini harus kita jaga bersama supaya tidak ada kasus baru,” kata Siska.
Kalimatnya sederhana. Tapi pesannya jelas: jangan lengah.
Siska tidak berbicara normatif. Ia masuk ke teknis. Tracking. Identifikasi. Penanganan. Semua OPD diminta bekerja ekstra. Bukan sekadar hadir di rapat, tapi hadir di lapangan.
Yang menarik, ia menyoroti satu fakta penting: kasus baru terungkap karena pemantauan posyandu. Artinya, sistem deteksi masih sangat bergantung pada kedatangan warga.
Bagi Siska, itu sinyal. Negara tidak boleh pasif menunggu. Negara harus menjemput.
Karena itu, ia menugaskan langsung Sekretaris Kota sebagai Ketua Satgas Stunting, dengan 12 dinas terintegrasi di bawahnya. Instruksinya tegas dan terbuka.
“Stunting ini program nasional. Jangan main-main mengurusnya,” ujarnya.
Pesan itu bukan sekadar peringatan. Itu garis komando.
Di banyak daerah, stunting sering kalah pamor dari proyek fisik. Jalan lebih cepat terlihat hasilnya. Gedung lebih mudah dipamerkan. Tapi Siska memilih fokus pada yang tak kasat mata—pertumbuhan anak.
Langkah ini menunjukkan satu hal: stunting ditempatkan sebagai isu kepemimpinan, bukan sekadar isu kesehatan.
Di Kendari, angka belum nol. Tapi arah kebijakan mulai jelas. Pemkot tidak menunggu pusat. Tidak menunggu viral. Tidak menunggu krisis.
Siska menyalakan alarm lebih awal.
Dan dalam urusan stunting, kecepatan membaca tanda bahaya sering kali lebih penting daripada tepuk tangan. (*)






Tinggalkan Balasan