📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

SIDRAP, Katasulsel.com — Air adalah soal hidup bagi petani. Bukan teori. Bukan wacana. Dan itu dipahami betul oleh Babinsa Desa Salobukkang, Serma Afzalul Rahman.

Kamis pagi (5/2/2026), ia tidak datang begitu saja. Tidak pula sekadar meninjau.

Ia turun ke parit—secara harfiah. Lumpur, rumput liar, dan endapan yang selama ini menyumbat saluran irigasi tersier di Dusun 2, Desa Salobukkang, menjadi musuh bersama.

Babinsa, aparat desa, BPD, hingga warga, berbaris rapi. Bukan apel. Tapi gotong royong. Cangkul dan sekop bekerja lebih keras daripada mikrofon.

Saluran irigasi itu sebenarnya kecil. Tersier. Tapi dampaknya besar. Jika tersumbat, sawah kering. Jika hujan deras, air meluap ke pemukiman. Dua risiko sekaligus—gagal panen dan masalah kesehatan.

“Kalau air macet, hasil tani ikut macet,” kata Serma Afzalul singkat. Kalimat sederhana, tapi mewakili logika paling dasar pertanian.

Musim tanam sedang berjalan. Air harus sampai ke sawah tepat waktu. Itulah alasan kegiatan ini digelar, tanpa menunggu instruksi panjang. Babinsa bergerak, warga mengikuti. Pola klasik yang masih bekerja di desa: contoh lebih ampuh dari perintah.

Di sela lumpur dan keringat, satu hal terlihat jelas: kehadiran TNI di desa tidak selalu soal seragam dan upacara. Kadang justru tentang parit, air, dan padi.

Pemerintah desa mengakui, saluran irigasi kini jauh lebih bersih dan aliran air kembali normal. Lebih dari itu, warga kembali diingatkan bahwa gotong royong bukan slogan, tapi solusi.

Di Dusun 2 Salobukkang hari itu, tidak ada seremoni. Yang ada hanya kerja bersama—demi air yang terus mengalir, dan sawah yang tetap hidup.(*)