Kendari, Katasulsel.com β Siapa sangka, uang proyek untuk membangun dinding dan jendela kantor bisa berakhir di layar ponsel. IA (35), kontraktor asal Konawe Selatan, kini menghadapi polisi setelah gelapkan Rp95 juta untuk berjudi online.
Yang unik dari kasus ini bukan hanya angka uang yang hilang, tetapi cara perginya uang itu. Dari yang seharusnya menjadi material dan pekerja nyata di kantor, uang itu justru βhidup sendiriβ di akun daring, diputar berulang kali oleh IA yang ketagihan sensasi menang-kalah virtual.
Tragisnya, ia bukan pemain judi profesional atau pengangguran. IA adalah kontraktor yang dipercaya mengerjakan proyek nyata, yang menuntut ketelitian dan disiplin. Alih-alih membeli semen atau kaca, setiap rupiah proyek itu berpindah ke taruhan daring yang menjanjikan keuntungan instan, tetapi hanya meninggalkan lubang finansial dan kekecewaan bagi perusahaan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, menegaskan, uang proyek yang masuk ke rekening IA dari April 2023 disalurkan ke akun judi online secara bertahap. βIa menggunakan uang itu untuk keperluan pribadi dan taruhan online,β ujar Malau.
Sisi lain yang menarik: fenomena ini bukan kasus kriminal biasa, tapi potret modern dari risiko digital. Di era internet, godaan virtual bisa mengubah tanggung jawab nyata menjadi permainan maya. Modal yang semestinya membangun kantor justru menjadi bagian dari βdunia imajinerβ yang menjanjikan kemenangan instan, tapi berujung masalah hukum.
Bagi IA, ini adalah pelajaran pahit. Bagi perusahaan dan masyarakat, kasus ini menjadi pengingat bahwa dunia maya bisa menjerat bahkan mereka yang memiliki pekerjaan tetap dan tanggung jawab riil. Uang nyata, proyek nyata, tetapi taruhan maya menjadi akhir dari kisah yang seharusnya sederhana: membangun gedung, bukan kehilangan kepercayaan.(*)

Tinggalkan Balasan