📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Jakarta, Katasulsel.com — Jakarta tidak sedang menunggu hujan. Ia sedang menunggu laut.

Mulai 11 hingga 16 Februari, 12 wilayah pesisir Ibu Kota masuk status waspada banjir rob. Bukan karena badai. Bukan karena hujan ekstrem. Tapi karena kombinasi sunyi antara gravitasi bulan dan pasang maksimum air laut.

Fenomena Bulan Baru membuat tarikan gravitasi berada dalam satu garis lurus yang sempurna. Dalam istilah oseanografi, ini fase pasang purnama—ketika air laut “naik kelas”. Dalam bahasa warga pesisir: rob bisa datang tanpa hujan.

Wilayah yang masuk radar bukan titik sembarang. Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, Tanjung Priok, hingga Kepulauan Seribu. Ini bukan sekadar daftar geografis. Ini zona merah urban.

Jakarta Utara memang hidup berdampingan dengan laut. Tapi setiap kali fase pasang ekstrem datang, kota ini seperti diuji ulang: siapa yang lebih siap—air atau manusia?

Puncak pasang diperkirakan terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 05.00 hingga 10.00 WIB. Jam-jam ketika sebagian warga bersiap kerja, anak-anak berangkat sekolah, dan aktivitas pelabuhan mulai menggeliat. Jika air laut merambat lebih cepat dari prediksi, jalan bisa berubah jadi kanal dadakan.

Rob berbeda dengan banjir hujan. Ia datang pelan. Kadang tanpa suara. Tapi dampaknya bisa sistemik. Saluran drainase yang tidak siap akan “balik arah”.

Air asin masuk, menggenangi permukiman, merusak lantai, menggerus infrastruktur pelan-pelan.

Jakarta bukan baru sekali menghadapi rob. Tapi setiap episode selalu menguji ketahanan kota. Pemerintah daerah meminta warga pesisir meningkatkan kewaspadaan, memantau informasi resmi, dan tidak menganggap enteng perubahan muka air laut.

Di era digital, peringatan dini kini bisa diakses lewat aplikasi dan kanal daring. Layanan darurat 112 juga disiagakan. Tapi mitigasi tidak berhenti di notifikasi ponsel.

Ia dimulai dari hal sederhana: membersihkan saluran air, mengamankan barang elektronik, menyiapkan pompa, hingga meninggikan tanggul darurat.

Jakarta adalah kota megapolitan yang berdiri di delta. Ia bukan hanya bertarung dengan curah hujan tinggi, tapi juga dengan realitas geografisnya sendiri. Penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut global menjadi dua variabel yang membuat rob tak bisa lagi dianggap siklus biasa.

Ini bukan sekadar air naik. Ini soal adaptasi kota pesisir di era perubahan iklim.

Sebagian warga mungkin sudah terbiasa. Rob dianggap rutinitas musiman. Tapi kebiasaan bukan berarti aman. Setiap pasang ekstrem selalu membawa potensi gangguan ekonomi, logistik, dan kesehatan lingkungan.

Jakarta sedang memasuki fase siaga, bukan panik. Siaga berarti membaca data. Siaga berarti bergerak sebelum air benar-benar masuk rumah.

Karena laut memang tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu momentum.

Dan pekan ini, momentum itu bernama pasang maksimum. (*)