📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Oleh: Edy Basri
Ketua Kolaborasi Jurnalistik Indonesia
Sulawesi Selatan

Kita hidup di zaman yang gaduh.
Informasi berseliweran tanpa rem. Kebenaran sering kalah cepat dari sensasi. Dan jurnalis—yang dulu berdiri gagah sebagai penjaga gerbang informasi—kini harus bertarung di medan yang tak lagi sederhana.

Media tidak hanya bersaing dengan media. Kita bersaing dengan algoritma. Dengan buzzer. Dengan akun anonim. Dengan konten 30 detik yang lebih viral daripada liputan 3 hari.

Di titik itulah saya meyakini: jurnalisme tidak bisa lagi berjalan sendiri.
Kolaborasi, Bukan Kompetisi Buta
Di masa lalu, redaksi berdiri seperti benteng. Eksklusif. Kompetitif. Siapa paling cepat, dia menang.

Hari ini, paradigma itu mulai usang.
Isu yang kita hadapi lintas batas. Tambang di daerah, investor di luar negeri. Korupsi di kabupaten, aliran dananya ke pusat. Perdagangan narkoba, jejaringnya internasional.

Model seperti yang dilakukan International Consortium of Investigative Journalists dalam membongkar Panama Papers menunjukkan satu hal: kekuatan ada pada kolaborasi.

Sulawesi Selatan butuh semangat itu.
Bukan untuk gagah-gagahan organisasi. Bukan untuk saling klaim paling independen. Tapi untuk memperkuat daya dobrak jurnalistik.

Integritas adalah Mata Uang Terakhir
Jurnalisme hari ini menghadapi krisis kepercayaan.

Publik bertanya: media berpihak ke siapa? Wartawan berdiri di mana?

Di tengah banjir hoaks dan framing politik, integritas menjadi mata uang terakhir yang kita miliki.

Kalau itu hilang, selesai.
Karena itu, KJI Sulawesi Selatan tidak boleh sekadar menjadi organisasi administratif. Ia harus menjadi ruang etika. Ruang diskusi. Ruang pembelajaran.
Kita tidak sedang membangun gedung. Kita sedang membangun kredibilitas.
Tantangan di Daerah Lebih Berat
Jurnalis daerah sering bekerja dalam tekanan yang sunyi.

Tidak semua kasus bisa ditulis dengan aman. Tidak semua kritik bisa disampaikan tanpa risiko. Tidak semua keberanian mendapat perlindungan.
Maka kolaborasi bukan hanya strategi kerja. Ia adalah perlindungan moral.
Jika satu ditekan, yang lain berdiri. Jika satu dibungkam, yang lain menyuarakan.
Soliditas itu penting.

Adaptasi atau Tertinggal
Kita tidak bisa menutup mata terhadap disrupsi digital.

Platform seperti Google dan Meta mengubah lanskap distribusi informasi. Algoritma menentukan jangkauan. Klik menentukan pendapatan.

Tapi jurnalisme bukan sekadar soal klik.
Ia tentang verifikasi. Tentang akurasi. Tentang keberanian menyampaikan yang benar meski tidak populer.
Karena itu, kita harus adaptif tanpa kehilangan ruh.

Belajar data journalism. Memahami SEO tanpa menggadaikan substansi. Memanfaatkan teknologi tanpa tunduk pada sensasi.

KJI Sulsel: Rumah Bersama
Menjelang pelantikan ini, saya memandang KJI Sulawesi Selatan bukan sebagai panggung struktural.
Ini rumah bersama.

Rumah untuk saling menguatkan.
Rumah untuk saling mengkritik secara sehat.

Rumah untuk membangun standar profesional.

Kita tidak ingin organisasi yang hanya hidup saat seremoni. Kita ingin organisasi yang hadir saat anggota menghadapi persoalan nyata.
Bersatu dalam Kolaborasi, Kuat dalam Integritas
Tema itu bukan slogan.
Itu kompas.

Kolaborasi tanpa integritas adalah kompromi.
Integritas tanpa kolaborasi adalah kesendirian.
Kita butuh keduanya.

Saya percaya, jika jurnalis Sulawesi Selatan mampu bersatu, menjaga etika, dan terus meningkatkan kapasitas, maka kita tidak hanya bertahan—kita memimpin.
Bukan dengan kebisingan.
Tapi dengan konsistensi.
Bukan dengan sensasi.
Tapi dengan substansi.

Dan dari Sulawesi Selatan, kita kirim pesan sederhana:
Jurnalisme masih punya masa depan.
Selama kita menjaganya bersama.(*)