📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppWAJO, Katasulsel.com — Pagi itu, udara di Ruang Terbuka Hijau Calaccu, Sengkang, belum benar-benar panas. Tapi suasananya sudah “panas” oleh satu hal: komando.
Bupati Wajo, Andi Rosman, turun langsung memimpin kerja bakti massal. Bukan sekadar seremoni. Ini disebutnya sebagai gerak cepat merespons instruksi Presiden Prabowo Subianto yang dalam berbagai forum nasional menyerukan satu hal: perang total melawan sampah.
Istilahnya tidak main-main—“perang melawan sampah”.
Dan Wajo memilih tak jadi penonton.
Dari Rakornas ke RTH Calaccu
Arahan Presiden Prabowo soal penguatan kebersihan lingkungan digaungkan dalam sejumlah forum, termasuk Rakornas. Pesannya tegas: kepala daerah jangan cuma rapat, tapi turun tangan.
Wajo menjawab itu dengan apel pagi bersama Forkopimda, ASN, dan masyarakat di RTH Calaccu, Jumat (13/2/2026). Setelah apel, barisan pejabat tak bubar ke kantor. Mereka menyebar ke titik-titik yang disasar.
Andi Rosman didampingi unsur Forkopimda dan Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Andi Hasanuddin. Bupati memantau langsung lokasi kegiatan. Bukan gaya photo session lima menit. Ia berkeliling.
“Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan komitmen bersama untuk menciptakan Wajo yang lebih bersih, sehat, dan nyaman,” tegasnya.
Kalimat itu sederhana. Tapi konteksnya besar.
Politik Kebersihan dan Panggung Kepemimpinan
Di era sekarang, kebersihan bukan lagi isu pinggiran. Ia sudah naik kasta jadi isu politik. Kota dan kabupaten dinilai bukan hanya dari APBD, tapi dari seberapa rapi selokannya.
Dan Prabowo sedang mendorong narasi besar: budaya bersih sebagai fondasi peradaban.
Di titik ini, Andi Rosman membaca momentum.
Sebelumnya, ia sudah mendapat penghargaan dari Presiden atas kontribusi dalam swasembada pangan dan dukungan program strategis nasional. Artinya, relasi pusat-daerah sedang dalam fase harmonis.
Kerja bakti massal ini bukan sekadar sapu dan karung sampah. Ini adalah alignment—penyelarasan arah kebijakan daerah dengan visi pusat, termasuk Asta Cita yang digaungkan Presiden Prabowo.
Gotong Royong Versi 2026
Yang menarik, kerja bakti ini melibatkan ASN dan masyarakat. Bukan hanya petugas kebersihan.
Ini menghidupkan kembali konsep lama yang lama-lama redup: gotong royong.
Di banyak daerah, kerja bakti tinggal jargon spanduk. Tapi ketika kepala daerah hadir langsung, efeknya berbeda. Ada pesan simbolik: pemimpin ikut berkeringat.
Andi Rosman menegaskan kegiatan seperti ini akan digelar berkala. Tidak berhenti di satu momentum.
“Khususnya dalam peningkatan pelayanan publik, infrastruktur, dan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Kalimat normatif? Ya.
Tapi dalam politik lokal, konsistensi lebih penting dari retorika. Publik akan melihat: apakah ini gerakan berkelanjutan atau sekadar respons musiman.
Ujian Berikutnya: Sistem, Bukan Seremonial
Perang melawan sampah tak bisa hanya mengandalkan kerja bakti massal. Ia butuh sistem: pengelolaan TPS, edukasi pemilahan, hingga regulasi tegas.
Jika kerja bakti ini menjadi pintu masuk pembenahan sistem, Wajo bisa naik kelas.
Jika tidak, ia hanya jadi agenda kalender.
Untuk saat ini, Wajo memilih bergerak. Dan Andi Rosman memilih memimpin dari depan.
Di tengah narasi nasional soal budaya bersih, langkah itu setidaknya mengirim pesan: daerah tak menunggu ditegur. Daerah ikut bertempur. (*)








Tinggalkan Balasan