📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMakassar, katasulsel.com — Pesawat itu mendarat pelan di Bandara Sultan Hasanuddin.
Sore belum benar-benar turun.
Langit Makassar masih menyisakan biru.
Dua lelaki keluar dari pintu kedatangan.
Langkahnya ringan.
Wajahnya lelah tapi senang.
Dari Bandara Soekarno Hatta mereka terbang dua jam.
Cukup untuk membuat tenggorokan kering.
Cukup untuk membuat kepala ingin kopi.
Yang satu Ketua Umum DPP KJI, Andarizal.
Yang satu lagi Ketua KJI Nasional, Nurfandri.
Datang bukan untuk jalan-jalan.
Datang untuk melantik pengurus KJI Sulawesi Selatan.
Tapi sebelum seremoni.
Sebelum pidato.
Ada yang lebih mendesak.
Ngopi.
Mobil belum jauh dari bandara.
Makassar menyambut dengan papan-papan warung kopi.
Warkop di sini bukan sekadar tempat minum.
Ia ruang diskusi.
Ia ruang demokrasi.
Ia ruang gosip paling jujur.
Mereka pun masuk ke salah satu warkop.
Sederhana.
Ramai.
Aroma rempah dan kuah menyambut lebih dulu.
“Dua kopi,” pesan Andarizal ringan.
Duduk.
Menunggu.
Membayangkan pahit hangat menyentuh bibir.
Yang datang dua mangkuk.
Beruap.
Bukan hitam pekat.
Tapi kuah cokelat kental.
Coto.
Andarizal sempat terdiam.
Nurfandri saling pandang.
Kening berkerut.
“Kok kopinya pakai mangkuk?” begitu kisah Andarizal kemudian, usai pelantikan di Taman Wisata Puncak Bila.
Ternyata bukan kopi yang salah.
Mereka yang belum paham.
Di Makassar, memesan di warkop bisa berarti memesan rasa.
Dan rasa paling kuat di kota ini bukan hanya kopi.
Tapi coto.
Dua mangkuk itu dibiarkan beberapa detik.
Belum disentuh.
Bukan ragu.
Tapi belajar.
Andarizal menengok kiri.
Nurfandri melirik kanan.
Mengamati pelanggan lain.
Oh… begitu caranya.
Kuah diseruput pelan.
Dagingnya dicampur.
Ketupatnya dipotong kecil.
Disatukan dalam satu sendok.
Baru mereka ikut.
Masih hati-hati.
Masih kaku.
Tapi penasaran.
Suapan pertama.
Diam.
Lalu anggukan kecil.
Hee..
“Begitu lihat cara pelanggan lain makan coto, kami pun ikut. Termasuk makan ketupatnya,” ujar Andarizal sambil tertawa.
Kopi tetap datang kemudian.
Tapi cerita tentang coto lebih dulu matang.
Malam itu mereka menginap di Makassar.
Kota angin laut.
Kota warkop tanpa tidur.
Esok paginya perjalanan dilanjutkan.
Sekitar 210 kilometer ke Kabupaten Sidrap.
Jalan panjang.
Bukit-bukit hijau.
Sawah-sawah membentang.
Panitia sudah menjemput di hotel.
Acara menunggu.
Pengurus KJI Sulsel yang di nahkodai Edy Basri bersiap dilantik.
Di aula Puncak Bila, tempat wisata alam paling keren di Sidrap, suasana berubah khidmat.
Andarizal tak lagi bingung dengan mangkuk.
Ia berdiri tegap.
Membacakan naskah pelantikan.
Suara tegas.
Tatapannya mantap.
Tapi di sela-sela formalitas itu, ada cerita kecil yang terus dibawa.
Tentang dua cangkir kopi yang berubah menjadi dua mangkuk coto.
Tentang belajar dari meja sebelah.
Tentang memahami daerah lewat rasa.
Makassar memberi pelajaran pertama.
Bukan lewat seminar.
Bukan lewat podium.
Lewat kuah panas dalam mangkuk.
Dan Andarizal tersenyum.
Kadang perjalanan organisasi dimulai dari hal sederhana.
Dari kopi yang tak jadi kopi. (*)






Tinggalkan Balasan