📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppJakarta, Katasulsel.com — Ada koper. Putih. Diam. Terkunci.
Tapi isinya bukan pakaian.
Isinya narkoba.
Dan koper itu tidak ditemukan di rumah bandar. Bukan di gudang gelap. Bukan pula di tangan kurir lintas provinsi. Koper itu justru berada di rumah seorang anggota polisi aktif: Aipda Dianita.
Ia mengaku hanya “dititipi”.
Kata itu terdengar ringan. Sepele. Seolah sekadar membantu atasan menyimpan barang. Tapi ini bukan tas dinas. Bukan dokumen. Ini narkotika.
Yang menitip bukan orang biasa. Seorang perwira. Mantan Kapolres. Sosok yang seharusnya berdiri di garis depan perang melawan narkoba.
Di titik itu publik mulai berhenti percaya pada kebetulan.
Pertanyaannya bukan lagi soal berapa gram sabu atau berapa butir ekstasi. Bukan juga soal jenis psikotropika yang ditemukan. Pertanyaannya lebih sederhana dan jauh lebih mengganggu: mengapa seorang perwira merasa aman menitip narkoba kepada bawahannya?
Apa yang membuatnya yakin koper itu tidak akan dibuka? Tidak akan dipertanyakan? Tidak akan dilaporkan?
Apakah karena hubungan lama? Karena rasa sungkan? Atau karena kultur komando yang membuat “titipan atasan” tak boleh ditolak?
Jika benar demikian, ini bukan sekadar perkara pidana. Ini soal kultur. Soal mentalitas. Soal bagaimana relasi kuasa bisa mengalahkan akal sehat.
Dalam struktur yang hierarkis, perintah sering kali tidak perlu diucapkan keras-keras. Cukup satu kalimat pendek. Cukup satu isyarat. Dan bawahan paham: jangan banyak tanya.
Di sinilah kasus ini menjadi lebih serius dari sekadar narkoba. Ia membuka kemungkinan adanya loyalitas yang keliru arah. Loyalitas kepada figur, bukan kepada hukum.
Jika seorang anggota menerima koper tanpa curiga, apakah itu tanda kesetiaan? Atau tanda ketakutan? Jika ia tahu tapi diam, itu masalah. Jika ia tidak tahu dan tidak bertanya, itu juga masalah.
Kerusakan terbesar dari kasus seperti ini bukan pada barang bukti yang disita. Bukan pada ancaman pasal yang menanti. Kerusakan terbesar adalah pada kepercayaan publik.
Setiap kali polisi menangkap pengedar, publik kini menyimpan satu pertanyaan tambahan dalam benaknya: apakah semua benar-benar bersih?
Kepercayaan adalah fondasi. Sekali retak, sulit dipulihkan. Dan koper itu, kecil bentuknya, telah membuat satu retakan baru.
Kini proses hukum berjalan. Pemeriksaan dilakukan. Status ditentukan. Tapi publik tidak hanya menunggu siapa yang jadi tersangka. Publik menunggu keberanian institusi untuk membuka semuanya tanpa tedeng aling-aling.
Karena ketika aparat penegak hukum terseret kasus narkoba, yang dipertaruhkan bukan sekadar karier pribadi. Yang dipertaruhkan adalah wibawa negara.
Dan dari satu koper itulah, publik sedang mengukur: seberapa serius perang melawan narkoba dijalankan, bahkan ketika pelurunya mengarah ke dalam. (*)








Tinggalkan Balasan