📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Makassar, Katasulsel.com — Makassar tak sekadar jadi lokasi. Ia berubah jadi “command center” anak muda pengusaha se-Indonesia.

Sidang Dewan Pleno (SDP) HIPMI 2026 di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Minggu (15/2/2026), bukan cuma forum konsolidasi biasa. Ini ajang adu visi, adu stamina, sekaligus “pemanasan politik” jelang Munas. Suhu ruang sidang terasa hangat—bukan karena pendingin ruangan bermasalah—tapi karena tensi kompetisi mulai naik.

Nama-nama besar hadir. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati. Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman. Deretan senior HIPMI seperti Muhammad Sarmuji, Erwin Aksa, Andi Rukman Karumpa, hingga Kamrussamad ikut memberi warna.

Tapi yang paling mencuri atensi justru empat “jurus pamungkas” dari Bahlil. Pesannya lugas. Fight, tapi jangan saling menjatuhkan. Fair. Jangan mengeluh. Dan jangan berharap imbal balik dari apa yang sudah dikeluarkan.

Kalimat terakhir itu seperti tamparan halus. Di organisasi pengusaha, logika bisnis sering tak jauh dari hitung-hitungan. Bahlil seperti ingin menggeser mindset: HIPMI bukan sekadar “return of investment”, tapi “return of impact”.

Tepuk tangan membahana. Seolah seluruh ruangan sepakat: kompetisi boleh panas, tapi organisasi jangan sampai overheat.

Namun, ada cerita lain di balik panggung.
Yang bekerja tanpa banyak sorot kamera.
BPC se-Sulawesi Selatan.

Mereka bukan pengambil keputusan di forum pleno. Bukan pula kandidat ketua umum. Tapi tanpa mereka, ritme acara bisa berantakan. Dari bandara, hotel, konsumsi, hingga pengawalan BPD se-Indonesia—semua dikawal ketat. Istilah populernya: all out, totalitas tanpa drama.

Ketua BPC HIPMI Sidrap, Mansur Marsuki, menyebut peran liaison officer (LO) bagi BPD seluruh Indonesia sebagai kehormatan sekaligus tanggung jawab moral.

“Kami pastikan teman-teman BPD merasa di rumah sendiri. Dari mendarat sampai kembali, kami kawal,” ujarnya.

Bagi Mansur, ini bukan sekadar kerja teknis. Ini soal trust building. Soal jejaring. Soal chemistry antardaerah.

“HIPMI bukan cuma soal siapa jadi ketua. Tapi bagaimana solidaritas dijaga dan dampak ekonomi daerah diperkuat,” katanya.

Di sinilah uniknya SDP kali ini. Panggung depan bicara arah organisasi dan peta ekonomi yang makin kompetitif. Panggung belakang berbicara tentang hospitality, networking, dan silent movement yang menentukan kesan.

Sulsel seperti ingin mengirim pesan: kami bukan hanya siap jadi tuan rumah, tapi juga siap jadi episentrum kolaborasi.
Makassar selama dua hari itu bukan hanya kota transit. Ia jadi melting pot gagasan. Tempat ego diuji. Tempat solidaritas dipertaruhkan.

Dan ketika forum resmi berakhir, yang tersisa bukan hanya notulen sidang. Tapi memori kolektif: bahwa organisasi sebesar HIPMI tak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, melainkan oleh seberapa solid barisan di belakang layar.
SDP ini boleh jadi pemanasan menuju Munas. Tapi bagi BPC se-Sulsel, ini sudah seperti final.

Mereka membuktikan satu hal: kadang yang paling menentukan bukan yang paling keras bersuara—melainkan yang paling siap bekerja. (*)