📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, katasulsel.com — Usia Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) memasuki 682 tahun. Bukan angka kecil. Bukan pula sekadar perayaan tahunan dengan spanduk dan panggung hiburan.

Tahun ini, Hari Jadi menjadi semacam rapor terbuka bagi kepemimpinan Bupati H. Syaharuddin Alrif yang genap sekitar satu tahun menakhodai Bumi Nene Mallomo.

Satu tahun memang belum cukup untuk mengubah segalanya. Tapi cukup untuk membaca arah.

Dan arah itu mulai terlihat.

Sejak dilantik, Syaharuddin tidak memilih gaya “slow motion”. Ia langsung memanaskan mesin birokrasi. Fokusnya jelas: pertanian sebagai tulang punggung, penguatan UMKM, pertanian, pelayanan publik yang lebih responsif, serta penguatan nilai religius dan budaya sebagai identitas daerah.

Sidrap memang dikenal sebagai lumbung pangan. Di bawah kepemimpinannya, sektor pertanian terus didorong lebih modern dan produktif. Koordinasi dengan pemerintah pusat diperkuat, distribusi pupuk dan dukungan ke petani menjadi perhatian serius.

Targetnya bukan hanya panen, tapi kesejahteraan.

Di sektor ekonomi rakyat, UMKM mulai mendapat ruang lebih luas. Event daerah digerakkan bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai trigger perputaran ekonomi lokal.

Pemerintah daerah sadar, pertumbuhan tidak boleh hanya dinikmati segelintir orang.

Yang menarik, pendekatan kepemimpinan Syaharuddin kerap dikaitkan dengan falsafah Bugis: Siri’ na Pacce. Harga diri dan solidaritas. Dalam konteks pemerintahan, itu diterjemahkan sebagai komitmen menjaga marwah daerah sekaligus keberpihakan pada masyarakat kecil.

Hari Jadi ke-682 ini menjadi momentum pembuktian bahwa nilai budaya tidak berhenti di pidato seremonial. Ia hidup dalam kebijakan.

Program keagamaan diperkuat.

Pembinaan generasi muda diperhatikan. Sinergi dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama dijaga. Stabilitas sosial relatif kondusif. Birokrasi mulai diarahkan lebih disiplin dan adaptif.

Publik tentu tetap kritis. Wajar. Tapi tak sedikit pula yang menilai satu tahun pertama ini menjadi fase peletakan fondasi. Bukan kerja sensasional. Tapi kerja sistematis.

Di usia 682 tahun, Sidrap tidak sedang mencari sensasi. Ia sedang menata diri.
Dan satu tahun pertama Syaharuddin Alrif ibarat bab pembuka. Mesin pemerintahan sudah menyala. Arah sudah digambar. Fondasi sudah ditanam.

Pertanyaan selanjutnya bukan lagi “apa yang sudah dilakukan?”

Tapi: Seberapa jauh lompatan berikutnya?

Hari Jadi kali ini bukan sekadar mengenang masa lalu.

Ini penanda bahwa Sidrap sedang bergerak.

Dan sang nakhoda memilih untuk tidak jalan di tempat. (edybasri)