📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Wajo, Katasulsel.com — Biasanya Musrenbang itu begitu-begitu saja. Datang. Duduk. Dengarkan sambutan. Foto. Selesai.
Tapi di Kecamatan Belawa, suasananya agak lain. Pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Wajo hadir kompak. Bukan setengah hati. Bukan sekadar isi daftar hadir.

Ini bukan cuma agenda tahunan. Ini panggung serius.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan — bahasa kerennya Musrenbang — sering dianggap forum normatif. Ritual birokrasi. Tapi kali ini, aroma yang tercium bukan sekadar formalitas. Ada nada pengawalan. Ada sinyal pengawasan.

Wakil Ketua DPRD, Andi Muh Rasyadi, berbicara tegas. Intinya sederhana: usulan masyarakat jangan berhenti di ruang rapat. Harus tembus sampai meja anggaran. Harus hidup dalam RKPD. Jangan mati sebagai notulen.

Kalimatnya tak panjang. Tapi pesannya jelas. DPRD tak mau cuma jadi stempel.
Belawa pun bersuara. Infrastruktur masih jadi primadona. Jalan, drainase, layanan dasar. Klasik? Ya.

Tapi justru di situlah realitasnya. Pembangunan tak butuh istilah canggih. Yang dibutuhkan adalah realisasi.

Anggota DPRD lainnya ikut menguatkan. Mereka bicara partisipasi. Bicara transparansi. Bicara pengawalan. Kata-kata yang sering terdengar. Tapi kali ini, publik ingin lebih dari sekadar diksi manis.

Karena publik sudah cerdas. Mereka tahu, Musrenbang bisa jadi dua hal:
Forum serius menyusun masa depan.
Atau sekadar panggung retorika tahunan.

DPRD Wajo tampaknya paham itu. Kehadiran mereka kompak. Sinyalnya jelas: legislatif tak ingin duduk manis menunggu hasil jadi dari eksekutif. Mereka mau ikut mengawal dari hulu.

Ini soal sinergi. Tapi bukan sinergi kosmetik. Bukan sekadar jargon yang cocok dipasang di spanduk.

Sinergi itu mahal. Karena artinya berbagi tanggung jawab. Kalau program gagal, tak bisa lagi saling tunjuk. Kalau aspirasi tak terakomodasi, tak bisa lagi lempar bola.
Musrenbang Belawa menjadi semacam ujian kecil.

Apakah DPRD benar-benar akan berdiri di belakang aspirasi itu saat pembahasan anggaran? Atau suara rakyat akan terselip di antara angka-angka dan prioritas politik?

Panggung sudah dibuka. Komitmen sudah diucapkan.

Sekarang yang ditunggu bukan lagi tepuk tangan.

Tapi bukti.

Belawa sudah menyampaikan daftar harapannya.

Wajo kini menunggu daftar realisasinya. (*)