📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppWajo, Katasulsel.com – Ramadan belum tiba. Tapi radar kewaspadaan sudah dinyalakan. Ketua DPRD Wajo, Firmansyah Perkesi, memilih turun gunung. Bukan ke ruang rapat. Tapi ke Pasar Mini Sengkang, Rabu (18/2/2026).
Ini bukan kunjungan basa-basi. Ini blusukan ekonomi. Bersama Bupati Wajo dan Forkopimda, Firmansyah menyisir lorong pasar. Mengecek langsung denyut harga. Menguji apakah sembako masih waras atau mulai “liar”.
Pasar Mini Sengkang di Kecamatan Tempe memang etalase ekonomi rakyat. Kalau di sini harga bergerak naik tajam, biasanya alarm inflasi berbunyi.
Beras dicek. Gula dipantau. Minyak goreng ditanya stoknya. Telur dihitung tray-nya. Daging ayam, cabai, bawang merah—semua masuk radar. Ini kerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Tapi kali ini, legislatif ikut pasang badan.
Firmansyah tak ingin Ramadan berubah jadi panggung kenaikan harga. “Kami ingin pastikan stok aman dan harga tetap terkendali. Jangan ada yang coba-coba mainkan harga,” katanya, setengah mengingatkan.
Bahasanya lugas. Tanpa gula-gula.
Di sela kunjungan, ia berdialog dengan pedagang. Bukan sekadar tanya kabar. Tapi menggali distribusi. Apakah pasokan lancar? Ada hambatan? Ada indikasi penahanan barang?
Karena menjelang Ramadan, pola klasik sering muncul: permintaan naik, psikologi pasar ikut naik. Kalau tak diawasi, harga bisa ikut terbang.
Firmansyah paham betul, sembako bukan sekadar komoditas. Ia menyangkut dapur rakyat. Kalau harga melonjak, daya beli terpukul. Kalau daya beli turun, ekonomi ikut tersendat. Efeknya berantai.
Karena itu, ia mendorong langkah antisipatif. Operasi pasar harus siap kapan saja. Intervensi distribusi jangan lambat. Jangan tunggu gaduh dulu baru bergerak.
Kehadiran Bupati, Sekda, kepala OPD, hingga unsur Forkopimda memberi pesan kuat: ini kerja kolektif. Stabilitas harga bukan urusan satu instansi.
Ramadan adalah bulan suci. Tapi di sisi lain, ia juga momentum ujian tata kelola. Apakah pemerintah sigap? Atau lengah?
Di Pasar Mini Sengkang pagi itu, harga masih dalam batas wajar. Stok terpantau aman. Tapi kewaspadaan tak boleh turun.
Karena menjaga pasar tetap rasional adalah soal keberanian bertindak sebelum krisis datang.
Dan kali ini, DPRD Wajo memilih tak sekadar mengawasi dari kejauhan. Mereka turun. Mengunci harga sejak dini. (Sose)







Tinggalkan Balasan