📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Enrekang, katasulsel.com— Hidup kadang seperti sinetron prime time. Bedanya, ini bukan skenario. Ini kisah nyata dari lereng Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang.

Suryadi Mas’ud. Nama yang dulu bikin aparat siaga. Ia pernah disebut sebagai “Dubes ISIS Asia Tenggara”. Keluar masuk negara. Masuk lingkaran paling dalam jaringan teror. Latihan militer, rakit bom, strategi serangan—ia kuasai.

Jejaknya tak main-main: Aceh, Jakarta, hingga Mindanao.

Lalu semua berubah.

Penjara Nusakambangan menjadi jeda panjang. Di sana ia ikut program deradikalisasi. Bukan cuma formalitas. Prosesnya pelan. Berat. Penuh benturan batin. Hingga akhirnya bebas bersyarat 13 Februari 2023.

Ia pulang. Bukan ke kota besar. Bukan ke tempat aman penuh sorotan. Ia pulang ke Malua, kampungnya di Enrekang—tanah Massenrempulu yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk ideologi keras.

Di situlah plot twist terjadi.

Pertengahan 2023, ia berdiri di kampung halamannya dan menyatakan sumpah setia pada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945. Terang-terangan. Tanpa tedeng aling-aling.
Risikonya? Jelas. Ia langsung “diblok” dari jaringan lama. Dicoret dari lingkaran ekstrem.

Tapi ia memilih jalan sunyi itu.

Dari Enrekang pula lahir ide besar: membangun wadah pembinaan untuk eks napiter. Bersama Dit Intelkam Polda Sulsel dan Densus 88 AT, berdirilah Yayasan Rumah Moderasi Makassar (YRMM) awal 2025.

Uniknya, konsep moderasi ini digagas oleh orang yang dulu hidup di sisi paling ekstrem. Ibarat mantan pembobol brankas yang kini jadi konsultan keamanan. Ia tahu pola radikalisme dari dalam.

Kini, 80 eks napiter dibina. Mereka belajar usaha. Jual kopi. Bikin kue tradisional. Servis handphone. Bengkel. Cuci motor.

Istilah populernya: rebranding hidup.

Tak berhenti di situ. Pertengahan Maret 2026, Suryadi bersama 11 eks napiter dan 32 anggota keluarga akan menjadi relawan program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Mereka akan melayani sekitar 3.000 siswa.

Dulu merakit bom. Kini menyiapkan makanan bergizi untuk anak sekolah. Kontrasnya terasa.

Yang lebih menyentuh: setelah masa bebas bersyaratnya berakhir 9 Maret 2026, ia berencana touring keliling Sulawesi Selatan. Tujuannya sederhana tapi berat: mendatangi keluarga murid-murid yang dulu pernah ia rekrut. Minta maaf langsung.

Tanpa kamera. Tanpa seremoni.
Enrekang menjadi saksi awal perjalanannya ke jalur gelap. Enrekang pula yang kini jadi titik baliknya.
Di lereng Latimojong itu, seorang mantan ekstremis sedang membangun ulang hidupnya.

Apakah publik akan sepenuhnya menerima? Waktu yang menjawab.
Yang jelas, kisah ini membuktikan satu hal:
Kadang perubahan paling radikal justru terjadi di kampung halaman. (*)