📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, katasulsel.com — Di tengah tren alpukat premium yang makin “naik kelas”, dari Hass sampai Miki impor, ada cerita tak biasa dari kebun sederhana di Baranti, Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Jelas, ini bukan dari California. Juga bukan dari Meksiko. Tapi dari pohon lokal yang dulu tumbuh liar di sekitar eks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Rappang di Sidrap.

Yang menarik juga, penemunya bukan oleh profesor botani. Melainkan politisi Sulsel yang juga hobi bertani, Namanya H. Zulkifli Zain.

Cerita bermula dari empat pohon alpukat lokal yang ditemukan itu ia tanam sekitar empat tahun lalu. Awalnya biasa saja. Tapi setelah panen pertama, muncul kejanggalan—atau tepatnya keistimewaan.

“Setelah buahnya habis dipanen, keluar bunga lagi. Berbuah lagi. Begitu terus,” ujar Zulkifli di kediamanya pribadinya di Baranti, Sabtu, 21 Fabruari 2026.

Empat tahun berjalan, lanjutnya, siklusnya konsisten. Panen, berbunga, berbuah lagi. Nyaris tanpa jeda panjang seperti kebanyakan varietas lain.

Padahal, di kebunnya, ia sudah menanam sekitar 30–35 jenis alpukat luar. Dari yang populer sampai yang eksperimental. Namun, satu varietas lokal ini justru paling mencuri perhatian.

Warnanya kuning pekat. Teksturnya lengket legit. Karakter dagingnya disebut “mentega”—lembut, tebal, dan kualitasnya premium.

Yang bikin penasaran: tak ada yang tahu nama varietasnya.

Bibitnya dulu didapat dari sekitar eks lembaga pemasyarakatan di Rappang. Dicoba tanam. Tumbuh subur. Dan kini, memantik rasa ingin tahu.

Fenomena ini bukan sekadar cerita kebun. Dalam dunia hortikultura, pola berbuah yang relatif kontinu menjadi nilai ekonomi tinggi. Jika stabil dan bisa direplikasi, potensi komersialnya besar.

Sementara, pakar tanaman alpukat asal Kediri, Agus, ikut menyoroti temuan ini.

Dalam sebuah wawancara dengan katasulsel.com, Ia menilai, jika kualitas rasa dan produktivitasnya konsisten, bukan tak mungkin ini adalah varietas unggul lokal yang belum terdaftar.

“Kalau buahnya enak, kasih saja nama baru. Mungkin cocoknya ‘Phili Avocado’,” sarannya.

Usulan itu bukan sekadar candaan. Branding dalam dunia pertanian modern adalah strategi. Lihat saja bagaimana varietas Hass mendunia karena konsistensi kualitas dan pengemasan narasi.

Jika “Phili Avocado”—atau apa pun nanti namanya—terbukti stabil secara agronomis, Sulawesi Selatan bisa punya ikon baru di peta per-alpukatan nasional.

Apalagi tren konsumsi alpukat terus naik. Dari jus kaki lima sampai menu brunch hotel bintang lima. Pasarnya hidup. Permintaan stabil. Bahkan ekspor terbuka.

Namun tentu, klaim varietas baru tak cukup dengan cerita viral. Perlu uji karakter morfologi, uji produktivitas, pencatatan varietas, hingga registrasi resmi jika ingin masuk pasar luas.

Di sinilah tantangannya: apakah ini sekadar kebetulan genetik? Atau benar-benar varietas lokal unggul yang selama ini tersembunyi?

Yang jelas, di kebun sederhana di Sidrap itu, ada pohon alpukat yang tak kenal musim panjang. Panen selesai, bunga menyusul. Bunga rontok, buah menggantung lagi.

Jika benar ini varietas potensial, kisahnya bisa melompat jauh—dari eks lapas Rappang ke pasar nasional. Bahkan global.

Dan siapa sangka, revolusi kecil itu berawal dari rasa penasaran seorang kolektor mangga yang jatuh hati pada satu pohon alpukat lokal. (edy)