📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Wajo, Katasulsel.com — Ramadan baru hitungan hari. Tapi denyut ekonomi di Kota Sutra sudah terasa “nendang”.

Di jantung kota, tepatnya di Lapangan Merdeka Sengkang, lampu-lampu stan mulai menyala sejak jelang magrib. Aroma takjil menyeruak. Musik religi mengalun pelan. Orang-orang berdatangan. Anak muda, emak-emak, sampai bapak-bapak yang sekalian ngabuburit.

Inilah Wajo Ramadan Expo 1447 H.

Event yang mengusung tema Sinergi Membangun Wajo ini bukan sekadar pasar kaget musiman. Ia seperti etalase besar yang mempertemukan UMKM, pengusaha muda, dan pemerintah dalam satu panggung kolaborasi.

Expo ini berlangsung sejak 21 Februari hingga 14 Maret. Waktunya pas. Awal Ramadan. Momen ketika daya beli naik, suasana religius menguat, dan masyarakat butuh ruang berkumpul.

Bupati Wajo, Andi Rosman, membaca momentum itu dengan jeli. Ramadan, bagi dia, bukan cuma soal ibadah ritual. Tapi juga soal gerak ekonomi rakyat. Kalau istilah kerennya: ibadah jalan, ekonomi tetap gaspol.

Di belakang layar, DPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HiPMI) Wajo jadi motor penggerak. Mereka menggandeng Pemkab Wajo dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Wajo. Kolaborasi ini seperti “tiga serangkai” yang mencoba membuktikan bahwa sinergi bukan cuma jargon di spanduk.

Stan-stan UMKM berjajar rapi. Kuliner kekinian, busana muslim, aneka kerajinan lokal. Semuanya berebut perhatian pengunjung. Sore hari, Lapmer berubah jadi lautan manusia yang berburu takjil. Malamnya, jadi ruang silaturahmi dan hiburan religi.

Yang menarik, expo ini membawa pesan kuat: Wajo tak mau hanya jadi penonton di tengah arus ekonomi kreatif. Anak muda diberi ruang. Pelaku UMKM diberi panggung. Pemerintah memberi dukungan.

Bupati Andi Rosman seolah ingin menunjukkan satu hal—membangun daerah tak selalu harus lewat proyek besar yang kasat mata. Kadang, cukup dengan menciptakan ruang tumbuh bagi warganya.

Ramadan kali ini, Lapmer Sengkang bukan sekadar lapangan. Ia menjelma jadi pusat denyut baru. Tempat di mana doa, usaha, dan harapan bertemu.

Dan dari sana, Wajo mencoba melangkah—pelan tapi pasti. (*)