📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, Katasulsel.com – Suara mesin combine harvester memecah pagi di hamparan sawah Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, Ahad (22/2). Bulir padi menguning. Karung-karung gabah tersusun rapi. Panen raya benar-benar terasa.

Di tengah hamparan sekitar 1.200 hektare sawah itu, Bupati Syaharuddin Alrif turun langsung mengoperasikan mesin panen modern. Bukan sekadar simbolik. Combine itu bekerja nyata—cepat, efisien, minim kehilangan hasil.

“Dulu kami panen manual, makan waktu lama dan biaya besar. Sekarang jauh lebih cepat. Kami benar-benar merasakan perubahan,” ujar Hasan, petani Otting, kepada Disway.

Desa Otting memang salah satu kantong produksi padi di Sidenreng Rappang. Sawah tadah hujan membentang di wilayah Elle Otting. Sementara sawah irigasi tersebar di Otting, Jampu, dan sekitarnya.

Produktivitasnya? Di atas 10 ton per hektare.

Angka yang membuat Sidrap tetap layak menyandang status lumbung padi Sulawesi Selatan.

Bupati Syaharuddin menyebut harga gabah saat ini mencapai Rp7.400 per kilogram—lebih tinggi dari harga serapan Bulog yang berkisar Rp6.500 hingga Rp6.800.

“Kalau ada yang membeli di atas harga yang ditetapkan, saya senang. Saya ingin petani Sidrap semakin makmur,” katanya.

Petani pun mengangguk.

“Harga segitu sangat membantu. Kalau stabil seperti ini, kami bisa bernapas lega,” kata Rahmawati, anggota kelompok tani perempuan di Otting. “Yang penting jangan naik turun drastis.”

Tak hanya soal harga. Air adalah kunci.

Sebanyak 173 hektare lahan nonrawa di Otting telah mendapat bantuan pompa air. Di seluruh Pitu Riawa—yang luas lahannya sekitar 3.000 hektare—sumur bor bertenaga listrik sedang dalam tahap pemasangan.

“Kalau listriknya sudah aktif semua, insyaallah musim tanam berikutnya tidak ada lagi sawah yang mengering,” ujar Hasan optimistis. “Itu yang bikin kami tidak lagi panen dengan cemas.”

Pemkab juga mengalokasikan Rp5 miliar untuk perbaikan irigasi Bulu Cenrana dan menyiapkan 16 brigade pangan di Kecamatan Pitu Riawa, termasuk dua unit khusus untuk Desa Otting.

Kepala Desa Otting, penyuluh pertanian, hingga perwakilan Bulog Sidrap hadir menyaksikan panen raya itu. Tapi yang paling terasa justru bukan deretan pejabatnya—melainkan senyum para petani.

Di pematang sawah, mereka bicara sederhana: soal air, soal pupuk, soal harga yang adil.

“Selama pemerintah hadir dari tanam sampai panen, kami semangat terus,” kata Hasan.

Panen raya di Otting hari itu bukan hanya tentang padi yang dipotong mesin. Tapi tentang rasa percaya diri petani yang ikut tumbuh—bahwa sawah mereka tidak lagi sekadar ladang harapan, melainkan sumber kesejahteraan yang makin nyata. (*)