📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppBARANTI, Katasulsel.com – Tidak ada kursi VIP. Tidak ada pagar pembatas. Tidak ada jarak.
Pelataran Masjid Dzulhijrah di Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang, Minggu (22/02/2026), berubah jadi lautan manusia. Ratusan warga datang. Duduk bersila. Menunggu azan magrib.
Di tengah kerumunan itu ada satu sosok yang tak asing: Zulkifli Zain.
Warga lebih mengenalnya dengan panggilan Pilli.
Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Sulawesi Selatan itu memang punya tradisi tahunan: buka puasa bersama warga. Bukan agenda reses. Bukan pertemuan konstituen formal. Tidak ada sambutan panjang penuh retorika.
“Ramadan itu waktunya merapatkan barisan, bukan bikin jarak,” begitu kalimat yang sering ia ulang.
Bukber kali ini dikemas sederhana. Kumpul. Doa. Buka bersama. Selesai.
Yang diundang bukan pejabat elite. Justru masyarakat umum, anak-anak santri, kaum duafa, tokoh kampung. Duduk sejajar. Satu hamparan.
Beberapa anggota DPRD Kabupaten Sidrap dari Fraksi Golkar juga hadir. Tapi tak ada formasi protokoler. Semua membaur.
Zulkifli memang dikenal rajin turun lapangan. Ia mewakili Dapil Sulsel IX—Sidrap, Pinrang, Enrekang—di DPRD Sulsel. Di parlemen, ia duduk di Komisi B yang mengurusi pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, dan UMKM.
Tapi obrolan sore itu tak melulu soal politik.
Seusai doa bersama, percakapan mengalir bebas. Dari cerita anak santri, ke persoalan pupuk, hingga harga gabah yang naik turun.
Maklum. Dunia pertanian bukan hal asing baginya.
Di luar gedung dewan, Zulkifli adalah kolektor berbagai varietas mangga. Ia juga pembudidaya ikan yang sudah mengadopsi teknologi eFishery—jauh sebelum duduk di kursi legislatif.
“Saya ini memang orang kebun,” selorohnya disambut tawa warga.
Seorang tokoh masyarakat Baranti, H. Rahman, menilai kehadiran Zulkifli bukan hanya saat momentum politik.
“Beliau datang bukan cuma musim kampanye. Ramadan pun beliau pilih kumpul begini. Itu yang bikin warga merasa dekat,” katanya.
Menjelang azan, suasana hening. Kurma berpindah tangan. Air mineral dibagikan. Anak-anak santri duduk paling depan.
Tak ada panggung tinggi. Tak ada mikrofon mewah.
Yang ada hanya silaturahmi.
Di bulan yang identik dengan ibadah dan introspeksi, Zulkifli Zain memilih format sederhana: duduk bersama, makan bersama, bicara apa adanya.
Bagi Pilli, mungkin ini bukan soal pencitraan. Tapi soal konsistensi: hadir, mendengar, dan tak membangun sekat.
Dan di Baranti sore itu, politik terasa lebih cair—melebur dalam doa dan aroma takjil.(*)






Tinggalkan Balasan