Senin malam, di Stadion B.J. Habibie Parepare. Sungguh saya tak menyangka..
Oleh: Edy Basri
Lampu terang. Tribun penuh. Awalnya senang. Kemudian pahit. Dan akhirnya… tersentak. PSM Makassar kalah. 2-4. Menyakitkan…
Saya berdiri di tribun. Menatap lapangan.
Rumput hijau tampak basah oleh embun malam. Angin tipis berhembus dari selatan. Suara drum, teriakan, dan sorak ribuan suporter membaur.
Awalnya saya begitu senang. Semua terasa hidup. Publik Juku Eja optimis.
Bola pertama mengalir cepat. Penalti Yuran Fernandes menit ke-8. Gol. Ledakan tribun. Senyum di wajah penonton. Optimisme.
Aloisio Soares menambah keunggulan menit ke-26. 2-0. Dua gol cepat.
Stadion seakan menari bersama tim tuan rumah. Saya menoleh ke sekeliling. Ada yang menepuk dada. Ada yang tersenyum sambil berbisik:
“Ini PSM. Akhirnya serius.” Tapi sepak bola jarang memberi kepastian.
Persita Tangerang bangkit. Serangan demi serangan. Intens. Menggeliat.
Andrejic Aleksa penalti menit ke-35. 2-1. Suasana berubah. Pendekar Cisadane menekan. Memaksa.
Dua menit kemudian, Pablo Ganet memanfaatkan umpan matang Rayco Rodriguez. 2-2. Babak pertama ditutup.
Kartu kuning muncul untuk Sheriddin Boboev dan Ananda Raehan. Atmosfer tribun tegang. Senang dan was-was bercampur.
Babak kedua. Pergantian pemain. PSM mencoba menyegarkan lini tengah. Daisuke Sakai dan Luka Cumic mengatur serangan.
Tapi pertahanan Persita seperti tembok. Solid. Tidak mudah ditembus.
Masuknya Hokky Caraka menit ke-60 menambah daya dobrak tamu. Persita mulai mendominasi. Bola bergerak cepat. Serangan balik mematikan.
Menit ke-74. Rayco Rodriguez membalikkan keadaan. 2-3. Stadion tersentak.
Desahan panjang. PSM tertekan. Pemain menyerang kehilangan arah. Kelelahan muncul.
Saya merasakan jantung berdetak lebih cepat. Bola cepat. Serangan Persita menyentak.
Menit ke-84. Dusan Lagator menembak. Peluang ada. Tapi barisan belakang Persita seperti tembok kokoh. Tidak tergoyahkan.
Dan akhirnya, menit ke-88, Hokky Caraka memastikan kemenangan Persita. 2-4. Asis Dejan Racic.
Penyerang Timnas Indonesia dingin menaklukkan Reza Arya. Stadion hening. Sekejap. Lalu desahan panjang. Kecewa. Empat pertandingan beruntun tanpa kemenangan.
Suporter turun ke lapangan. Membentangkan spanduk protes. Bicara keras. Kecewa. Tidak pada seluruh tim, tapi pada beberapa pemain inti. Yuran Fernandes. Muhammad Arfan.
Mereka menjadi simbol frustrasi malam itu.
Saya menatap pelatih PSM. Menunjuk sana sini. Kadang seperti menggambar peta harta karun. Kadang menahan amarah agar tidak menular ke pemain.
Sebagian besar dari kita tidak melihatnya, tapi ada keseriusan di balik semua itu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan angka.
Sepak bola memang begitu. Tidak sempurna. Tapi nyata. Lini tengah bisa buntu. Lini belakang bisa bobol. Pemain bisa kelelahan. Tapi cerita selalu hidup.
Kadang kita tidak menyadarinya. Kadang kita hanya melihat skor. Tapi malam itu, semuanya terasa nyata. Mengiris. Menggeliat di dada.
PSM tersungkur. Tapi refleksi tetap ada. Lini serang harus tajam. Pertahanan rapat.
Chemistry tim harus kembali. Liga 1 masih panjang. Tapi Persita telah menulis babak mereka sendiri.
Drama 2-4 di Parepare. Drama yang menempel di setiap kursi tribun, di setiap teriakan suporter, di setiap strategi yang gagal.
Malam itu, awalnya senang. Lalu pahit. Lalu tersentak. Lalu diam. Sepak bola seperti itu. Tidak sempurna. Tapi nyata. Dan kita tetap mencintainya.(*)


Tinggalkan Balasan