Tipue Sultan EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 459 Lihat semua

Jakarta, Katasulsel.com — Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali terlibat dialog intens melalui telepon, namun publik dunia justru dibuat bertanya: siapa sebenarnya yang sedang kehabisan strategi di tengah gejolak peperangan global?

Panggilan telepon berdurasi satu jam itu berfokus pada dua konflik besar yang terus membayangi panggung diplomasi internasional — Iran dan Ukraina.

Percakapan yang diprakarsai oleh Trump itu berlangsung “profesional, jujur, dan konstruktif”, demikian kata penasihat Kremlin Yury Ushakov.

Namun di balik kata‑kata mulus itu tersimpan tarik ulur kepentingan yang bikin diplomasi barat‑timur makin rumit.

Putin, seperti dilaporkan media internasional, mengajak Trump untuk mengakhiri konflik militer yang melibatkan AS dan sekutunya di Iran melalui jalan politik dan diplomatik.

Rusia, sebagai sekutu dekat Teheran, menilai perang yang berlangsung di Timur Tengah belum membawa stabilitas, dan justru semakin memperparah krisis energi serta ketegangan regional.

Namun, respons Trump agak berbeda dari apa yang diharapkan Kremlin. Alih‑alih memberi lampu hijau untuk meredakan konflik Iran, Trump menekankan bahwa prioritas utama AS adalah menyelesaikan dulu konflik besar yang disebutnya “never‑ending” di Ukraina — perang yang telah berkecamuk sejak 2022.

Menurut Trump, gencatan senjata di Ukraina dan penyelesaian damai yang langgeng merupakan kunci agar situasi geopolitik global bisa lebih stabil.

“Kita berbicara soal Ukraina, yang tampaknya tak pernah selesai. Itu masalah besar,” kata

Trump dalam panggilan telepon.

Trump juga mengakui Putin “ingin membantu” di Timur Tengah, namun menyisipkan penekanan bahwa Rusia bisa berkontribusi lebih nyata jika ada langkah nyata untuk mengakhiri perang di Ukraina terlebih dulu.

Dialog kedua pemimpin ini terjadi di tengah situasi yang semakin rumit.

Permusuhan antara AS‑Israel dengan Iran semakin memanas setelah serangan dan pembalasan yang terus berlanjut, sementara negosiasi untuk menyudahi konflik Ukraina belum memperlihatkan terobosan besar meski ada beberapa putaran pembicaraan trilateral.

Beberapa analis menilai panggilan itu mencerminkan diplomasi berbayang dengan kepentingan terselubung: Rusia ingin memposisikan diri sebagai mediator damai di Iran, sementara AS masih ngotot bahwa Ukraina harus diselesaikan terlebih dahulu agar upaya perdamaian lain bisa efektif.

Namun tidak semua pengamat yakin pendekatan Trump itu akan berhasil.

Dengan konflik yang terus berkecamuk di dua front sekaligus — Iran dan Ukraina — banyak pihak mempertanyakan apakah strategi prioritas semacam itu benar‑benar realistis atau sekadar cara retoris untuk menjaga citra internasional di tengah kritik atas kebijakan luar negeri AS.

Sementara itu, kedua pemimpin juga sepakat untuk mempertahankan komunikasi reguler, menjaga saluran diplomasi tetap terbuka meski perbedaan kepentingan tetap tajam. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.