Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 535 Lihat semua

Makassar, Katasulsel.com — Angka itu terlihat besar.

Rp 6,75 miliar.

Tapi bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia Sulawesi Selatan—itu belum cukup.

Jauh dari cukup.

Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulsel XVIII 2026 akan digelar di dua daerah:
Wajo dan Bone.

Event besar.
Multi-cabang.
Multi-kebutuhan.

Ketua Harian KONI Sulsel, Abd Chalik Suang, bicara lugas:

“Anggaran itu tidak cukup.”

Perbandingan langsung disodorkan.

Porprov 2022 di Sinjai dan Bulukumba—menghabiskan lebih dari Rp 10 miliar.

Saat itu, hanya 36 cabang olahraga.

Sekarang?

Lebih dari 40 cabang dipertandingkan.
Ditambah 11 cabang eksebisi.

Lebih ramai.
Lebih mahal.

KONI Sulsel sebenarnya sudah berhitung.

Awalnya mengajukan Rp 18 miliar.

Dipangkas. Ditekan. Disederhanakan.

Hasilnya: sekitar Rp 11 miliar.

Masih kurang.

Selisihnya sekitar Rp 4 miliar dari angka yang tersedia.

Uang itu bukan untuk hal sepele.

Digunakan untuk:
– Wasit dan perangkat pertandingan
– Technical delegate
– Monitoring dan evaluasi
– Pembelian dan sewa peralatan

Contoh sederhana: ring untuk Muaythai.

Tidak bisa diganti.
Tidak bisa diimprovisasi.

Harus ada.

Masalah lain muncul di jalur komunikasi.

Selama ini, kata Chalik, KONI belum pernah duduk langsung dengan Andi Sudirman Sulaiman.

Semua lewat perantara.

Lewat Dispora.

Dan di situlah—banyak hal tidak tersampaikan utuh.

“Kami ingin presentasi langsung,” katanya.

Bukan sekadar laporan.

Tapi penjelasan menyeluruh—dari kebutuhan teknis hingga urgensi anggaran.

Rencananya, audiensi akan dilakukan setelah Lebaran.

Bagi KONI, Porprov bukan sekadar lomba.

Ini pondasi.

Tempat lahirnya atlet.

Tempat seleksi awal menuju panggung lebih besar: Pra-PON hingga PON.

Targetnya jelas:
Pekan Olahraga Nasional 2028 di NTB–NTT.

Kalau Porprov goyah—rantai pembinaan ikut terganggu.

“Kalau Porprov gagal, Sulsel tidak akan bisa berbicara banyak di PON 2028,” tegas Chalik.

Jadi persoalannya bukan sekadar angka.

Tapi masa depan olahraga.

Di antara angka miliaran itu—ada harapan ribuan atlet muda.

Yang menunggu panggung.
Yang menunggu kesempatan.

Dan semuanya—bergantung pada satu hal sederhana:

Cukup atau tidaknya anggaran.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.