WAJO, Katasulsel.com — Setahun itu singkat. Tapi bisa jadi penentu arah.
Di Kabupaten Wajo, satu tahun kepemimpinan Andi Rosman bersama Baso Rahmanuddin—atau yang akrab disapa DBR—mulai memperlihatkan wajah baru daerah ini. Bukan perubahan yang gaduh. Bukan pula yang serba instan. Tapi perubahan yang terasa, terutama di hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan warga.
Tidak banyak retorika. Yang terlihat justru kerja-kerja nyata.
Dari pinggir kota hingga pelosok desa, satu per satu ruas jalan mulai disentuh. Jalan yang dulunya rusak, berlubang, bahkan nyaris tak layak dilalui, kini perlahan berubah. Bukan sekadar diaspal, tapi direkonstruksi. Diperkuat. Dibenahi dari dasar.
Di Lingkungan Bonto Use, Kelurahan Pincengpute, Kecamatan Tanasitolo, warga mulai merasakan perbedaan itu. Begitu juga di wilayah Siwa, Pitumpanua, hingga jalur Ongkoe–Belawa dan Simpellu. Nama-nama yang mungkin dulu jarang disebut, kini menjadi bagian dari cerita perubahan.
Pembangunan juga menyentuh ruas strategis seperti Tobarakka–Leworeng, Ujung Kessi–Cenrane, hingga Penrang Riase. Jalan-jalan ini bukan sekadar penghubung wilayah, tapi jalur ekonomi. Ketika akses terbuka, pergerakan barang dan orang ikut hidup.
Tidak berhenti di situ, sejumlah jembatan yang selama ini menjadi titik krusial juga mendapat perhatian. Jembatan gantung Tadangpalie di Sabbangparu, Cellue Takkallala, hingga jembatan Paddupa di Tempe kembali diperkuat. Begitu pula jembatan gantung Wage yang menjadi urat nadi mobilitas warga.
Perubahan ini terasa sederhana di atas kertas. Tapi bagi masyarakat, dampaknya nyata. Waktu tempuh berkurang. Biaya transportasi menurun. Aktivitas ekonomi mulai bergerak lebih cepat.
Wajah Wajo mulai berubah—dari yang sebelumnya terasa terhambat, menjadi lebih terbuka.
Namun perubahan di Wajo tidak berhenti di infrastruktur. Pelayanan masyarakat di berbagai sektor juga mulai menunjukkan perbaikan.
Di sektor pertanian, dukungan terhadap petani semakin diperkuat. Akses jalan tani yang membaik membuat distribusi hasil panen lebih lancar. Irigasi mulai dibenahi. Pendampingan kepada petani juga semakin intens, sehingga produktivitas perlahan meningkat.
Di sektor perdagangan, geliat ekonomi rakyat mulai terasa. Pasar-pasar semakin hidup, distribusi barang lebih lancar, dan pelaku UMKM mendapatkan ruang untuk berkembang. Aktivitas jual beli yang dulu terhambat akses, kini mulai bergerak lebih cepat.
Sementara di bidang kesehatan, pelayanan kepada masyarakat terus ditingkatkan. Fasilitas kesehatan diperkuat, akses layanan semakin mudah dijangkau, dan kesadaran masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan juga semakin meningkat.
Di sektor pendidikan, perhatian terhadap kualitas belajar mengajar juga mulai terlihat. Akses pendidikan terus diperluas, sarana pendukung ditingkatkan, dan dorongan agar anak-anak tetap bersekolah semakin digencarkan.
Semua itu menunjukkan satu arah yang sama: pelayanan publik mulai membaik. Tidak sempurna, tapi bergerak ke arah yang lebih baik.
Di dalam Kota Sengkang, pembenahan drainase juga dilakukan. Hal yang sering luput dari perhatian, tapi sangat terasa ketika hujan datang. Ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kenyamanan dasar bagi masyarakat.
Pemerintah daerah juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kegiatan strategis. Salah satunya lewat pelaksanaan Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional ke-8 yang juga berskala internasional.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi ruang pergerakan ekonomi. Orang datang, interaksi meningkat, dan pelaku usaha kecil ikut merasakan dampaknya.
Dalam berbagai kesempatan, Andi Rosman menegaskan bahwa pembangunan yang dilakukan bukan hanya fisik, tapi juga menyentuh pelayanan dasar masyarakat.
“Kami terus berusaha membangun kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Hal itu juga diakui Ketua DPRD Wajo, Firmansyah Perkesi. Ia menilai, dalam satu tahun terakhir, arah pembangunan sudah berada di jalur yang tepat.
Menurutnya, perbaikan infrastruktur yang berjalan seiring dengan peningkatan pelayanan masyarakat menjadi indikator bahwa pemerintah daerah bekerja secara terarah dan menyentuh kebutuhan warga.
“Kita melihat langsung dampaknya di lapangan. Bukan hanya jalan yang membaik, tapi juga pelayanan kepada masyarakat di berbagai sektor mulai terasa,” ungkapnya.
Di sisi lain, Baso Rahmanuddin melihat perjalanan ini sebagai proses yang terus berjalan.
Baginya, satu tahun pertama bukan akhir, melainkan awal untuk terus berbenah dan memperkuat pelayanan publik di semua lini.
“Ini menjadi momentum untuk terus memperbaiki apa yang masih kurang,” ujarnya.
Setahun Rosman–DBR memang belum menyelesaikan semua persoalan. Tapi arah perubahan sudah terlihat jelas.
Wajo kini bergerak. Tidak hanya pada pembangunan fisik, tapi juga pada kualitas pelayanan masyarakat.
Pelan. Bertahap. Tapi pasti.
Dan dari situlah, wajah baru Wajo mulai terbentuk—lebih terbuka, lebih melayani, dan lebih memberi harapan bagi warganya.(*)


