SIDRAP, Katasulsel.com — Angka itu tidak kecil.
7,71 persen.
Tertinggi di Sulawesi Selatan. Dari 24 kabupaten/kota, Sidrap berdiri di atas.
Bukan kebetulan.
Ini kerja. Ini arah. Ini kepemimpinan.
Di balik capaian itu, ada peran Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif. Ia mendorong sektor riil bergerak lebih cepat. Tidak banyak retorika. Fokus ke lapangan.
Dan hasilnya mulai terlihat.
Bukan industri besar. Bukan pabrik raksasa.
Tapi sawah.
Dan ayam.
Pertanian padi dan peternakan unggas menjadi mesin utama. Bergerak setiap hari. Menghidupkan ekonomi dari desa ke kota.
Petani menanam. Peternak memelihara. Distribusi berjalan. Uang berputar.
Sidrap tumbuh.
Tahun sebelumnya bahkan lebih tinggi. 9,5 persen di 2025. Sebuah angka yang membuat banyak daerah lain tertinggal.
Syaharuddin Alrif tidak berhenti di angka. Ia dorong perubahan.
Pertanian mulai disentuh modernisasi. Teknologi masuk. Program seperti SARPROFEST jadi pemicu. Bukan sekadar festival, tapi ruang inovasi.
Peternakan juga dikuatkan.
Sidrap kini dikenal sebagai salah satu sentra ayam terbesar di Sulsel. Dari kandang-kandang itu, ekonomi bergerak. Protein masyarakat terpenuhi.
Lalu pelan-pelan, sektor lain ikut tumbuh.
UMKM berkembang. Perdagangan hidup. Agroindustri mulai dilirik.
Ada yang mengolah hasil panen. Ada yang masuk ke distribusi. Ada yang membangun jaringan logistik.
Lapangan kerja terbuka.
Investor mulai datang. Melihat peluang. Melihat stabilitas.
Sidrap tidak lagi dipandang sebagai daerah biasa.
Namun di balik itu, tantangan tetap ada.
Ketergantungan pada sektor primer masih tinggi. Harga komoditas bisa naik turun. Risiko selalu mengintai.
Infrastruktur distribusi belum sepenuhnya kuat. Digitalisasi UMKM juga masih terbatas.
Ini pekerjaan rumah.
Tapi juga peluang besar.
Ke depan, arah mulai jelas.
Agroindustri diperkuat. Nilai tambah diciptakan. Energi dari limbah pertanian bisa dikembangkan.
Kolaborasi dengan daerah lain, termasuk Makassar, bisa mempercepat langkah.
Dan di tengah semua itu, Sidrap terus bergerak.
Dari sawah. Dari kandang ayam. Dari tangan petani dan peternak.
Dengan dorongan kebijakan dan arah kepemimpinan.
Sidrap hari ini bukan sekadar lumbung pangan.
Ia sedang menjelma.
Menjadi kekuatan ekonomi baru di Sulawesi Selatan. (*)


