Oleh: Asri Tadda
(Ketua DPW Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan)

Setiap daerah memiliki simbol kekuatan sosialnya. Di Sulawesi Selatan, salah satu simbol itu adalah Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM). Selama lebih dari tiga dekade, forum ini bukan sekadar ajang silaturahmi diaspora, tetapi telah berkembang menjadi panggung pertemuan para pengusaha, tokoh nasional, dan jaringan ekonomi yang memiliki pengaruh nyata terhadap arah pembangunan daerah.

Tidak sedikit gagasan besar lahir dari forum ini. Tidak sedikit pula investasi dan kerja sama ekonomi terjalin melalui relasi yang dipertemukan di sana. Dalam banyak hal, PSBM adalah refleksi dari karakter masyarakat Sulawesi Selatan yang terbuka, adaptif, dan kuat dalam jejaring.

Namun, justru karena pengaruhnya yang besar itulah, PSBM kini berada pada titik refleksi penting. Pertanyaan yang mulai mengemuka bukan lagi sekadar tentang kontinuitas forum ini, tetapi tentang posisinya dalam lanskap sosial-ekonomi Sulawesi Selatan yang semakin beragam dan kompleks.

Bukan Hanya Bugis dan Makassar

Sejarah memang mencatat dominasi peran Bugis dan Makassar dalam jaringan perdagangan dan diaspora Nusantara. Tradisi merantau, etos kewirausahaan, dan kemampuan membangun jaringan menjadi fondasi kuat yang melahirkan ekosistem saudagar hingga hari ini.

Namun Sulawesi Selatan bukan hanya tentang dua identitas itu. Provinsi ini berdiri di atas keragaman sejarah dan peradaban.

Ada Toraja dengan kekuatan budaya dan pariwisatanya, ada Luwu dengan jejak kerajaan tua serta potensi sumber daya alam yang besar, ada Selayar dengan karakter maritimnya, serta berbagai komunitas adat lain yang turut membentuk wajah sosial daerah ini.

Dalam konteks ekonomi modern, bahkan pusat-pusat pertumbuhan baru tidak lagi sepenuhnya berpusat di kawasan tradisional. Kawasan timur Sulawesi Selatan, wilayah pesisir, hingga daerah pegunungan kini mulai memainkan peran penting dalam struktur ekonomi provinsi.

Di sinilah muncul sebuah refleksi yang semakin relevan. Apakah narasi ekonomi Sulawesi Selatan hari ini sudah cukup merepresentasikan seluruh kekuatan daerahnya?

Advertisement

Identitas dan Kekuasaan Ekonomi

Nama PSBM sendiri pada dasarnya adalah produk sejarah—lahir dari realitas sosial dan jaringan diaspora yang memang didominasi oleh komunitas Bugis dan Makassar. Dalam konteks awal pembentukannya, hal itu wajar.

Namun, seiring waktu, forum ini berkembang menjadi lebih dari sekadar ruang komunitas. Kehadiran pejabat negara, pengambil kebijakan, investor besar, hingga agenda-agenda strategis ekonomi membuat PSBM memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Pada titik ini, sebuah forum berbasis identitas bisa memiliki dua kemungkinan dampak sekaligus. Pertama, ia menjadi penguat solidaritas sosial yang produktif.
Kedua, secara tidak langsung ia juga dapat membentuk persepsi tentang siapa yang berada di pusat pengaruh ekonomi daerah. Dan persepsi, dalam politik ekonomi, sering kali sama pentingnya dengan realitas itu sendiri.

Inklusivitas Ekonomi Daerah

Salah satu tantangan pembangunan daerah di Indonesia adalah kesenjangan narasi antara pusat dan wilayah. Dalam banyak kasus, daerah yang memiliki sumber daya besar justru tidak selalu memiliki panggung yang sama dalam percakapan ekonomi.

Sulawesi Selatan mulai menunjukkan gejala yang serupa. Wilayah seperti Luwu Raya, misalnya, kini menjadi salah satu kawasan strategis dalam peta industri nasional—mulai dari pertambangan, energi, hingga pengembangan kawasan industri berbasis hilirisasi. Sementara Toraja menjadi ikon pariwisata global yang membawa nama Sulawesi Selatan ke panggung internasional.

Namun dalam narasi ekonomi besar provinsi, representasi wilayah-wilayah ini belum selalu terasa seimbang. Bukan karena tidak ada kontribusi, tetapi karena ruang percakapan ekonomi masih sering berputar pada jaringan yang sama sejak lama. Di titik inilah forum seperti PSBM sebenarnya memiliki peluang besar untuk melakukan transformasi.

Menuju Ekosistem Ekonomi Kawasan

Jika melihat perkembangan ekonomi regional di banyak negara, forum bisnis berbasis komunitas sering kali mengalami evolusi. Mereka tidak kehilangan identitas asalnya, tetapi memperluas perannya menjadi ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.

PSBM memiliki modal sosial untuk melakukan hal itu. Bayangkan jika forum ini tidak hanya menjadi tempat bertemunya saudagar diaspora, tetapi juga menjadi simpul yang mempertemukan pengusaha dari seluruh kawasan Sulawesi Selatan, pelaku industri baru, generasi muda entrepreneur daerah, serta jaringan investasi yang lebih luas.

Dalam posisi seperti itu, PSBM dapat menjadi platform strategis yang bukan hanya memperkuat identitas sejarah, tetapi juga secara ril dan prospektif membangun masa depan ekonomi yang lebih merata.

Advertisement

Sulawesi Selatan kini sedang memasuki fase baru pembangunan. Infrastruktur berkembang, kawasan industri bertumbuh, konektivitas semakin terbuka, dan generasi baru pelaku usaha mulai muncul dari berbagai daerah.

Perubahan ini akan menentukan bentuk ekonomi daerah dalam beberapa dekade ke depan. Pertanyaan yang sederhana tetapi sebenarnya cukup mendasar saat ini adalah, apakah pusat-pusat kekuatan ekonomi lama bersedia membuka ruang bagi dinamika baru yang sedang tumbuh?

Jika jawabannya ya, maka PSBM justru bisa menjadi jembatan transformasi itu. Namun jika tidak, sejarah menunjukkan bahwa pusat-pusat ekonomi baru akan tetap muncul—dengan atau tanpa ruang dari struktur lama.

Relevansi dengan Perubahan Zaman

Semua forum besar pada akhirnya menghadapi ujian yang sama, yakni soal relevansi. PSBM telah membuktikan dirinya mampu bertahan selama puluhan tahun. Itu bukan hal kecil. Tetapi masa depan selalu menuntut lebih dari sekadar keberlanjutan tradisi. Ia menuntut kemampuan membaca perubahan sosial, ekonomi, dan identitas masyarakat.

Jika PSBM mampu bertransformasi menjadi ruang ekonomi yang lebih inklusif—tanpa kehilangan akar sejarahnya—maka forum ini tidak hanya akan tetap penting bagi Bugis dan Makassar, tetapi juga bagi seluruh diaspora Sulawesi Selatan. Dan mungkin, bahkan bagi masa depan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah daerah bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling dominan, melainkan oleh seberapa luas ia mampu merangkul seluruh potensi yang ada dan menggerakkannya sebagai kekuatan sosial-ekonomi yang prospektif. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.