Konsel, Katasulsel.com — Musyawarah Daerah (Musda) V DPD II Partai Golongan Karya (Golkar) Konawe Selatan bukan sekadar agenda rutin organisasi.
Forum ini berubah menjadi panggung konsolidasi sekaligus penegasan arah politik partai dalam menghadapi kontestasi elektoral mendatang.
Di tengah dinamika politik lokal yang kerap diwarnai friksi kepentingan, Musda kali ini justru berlangsung relatif senyap. Minim riak, nyaris tanpa turbulensi.
Bagi elite Golkar, kondisi itu dibaca sebagai sinyal positif: mesin partai dianggap sudah berada dalam satu komando.
Ketua DPD I Golkar Sulawesi Tenggara, La Ode Darwin, memainkan peran sentral dalam mengunci narasi besar tersebut.
Ia menekankan pentingnya soliditas sebagai prasyarat utama dalam membangun daya tawar politik,” Soliditas yang terpenting,” terangnya, Minggu, (29/3).
Dalam diksi yang tegas, Darwin mengingatkan agar tidak ada “politik di dalam partai politik”—sebuah istilah yang dalam tradisi politik kerap dimaknai sebagai penolakan terhadap manuver faksional dan agenda tersembunyi di internal.
Pesannya sederhana tapi keras: kader harus bergerak dalam satu barisan, bukan dalam orbit kepentingan masing-masing. Dalam konteks ini, konsolidasi bukan lagi jargon, melainkan instrumen utama untuk menjaga stabilitas dan efektivitas kerja-kerja politik.
Darwin juga membaca Musda Konawe Selatan sebagai salah satu etalase keberhasilan konsolidasi Golkar di tingkat provinsi.
Dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara yang telah menggelar Musda, Konsel disebut sebagai contoh minim gesekan. Ini mempertegas bahwa kontrol struktural partai masih berjalan efektif.
Namun di balik stabilitas itu, tersimpan ambisi besar. Target 14 kursi DPRD Konsel yang dipasang bukan angka sembarangan.
Dari posisi saat ini, lonjakan tersebut membutuhkan kerja elektoral yang sistematis—mulai dari penguatan basis, rekrutmen figur, hingga optimalisasi jaringan akar rumput.
Di titik inilah peran Ketua DPD II Golkar Konsel, Irham Kalenggo, menjadi krusial.
Ia bukan hanya figur organisatoris, tetapi juga operator lapangan yang dituntut mampu menjaga ritme konsolidasi sekaligus mengakselerasi kerja-kerja pemenangan.
Pernyataannya yang membuka peluang kembali memimpin mengisyaratkan adanya kesinambungan kepemimpinan—sebuah faktor penting dalam menjaga stabilitas internal.
Sementara itu, Wakil Bupati Konawe Selatan, Wahyu Ade Pratama Imran, membawa perspektif lain dalam forum tersebut.
Ia menegaskan relasi timbal balik antara partai politik dan pemerintahan daerah. Dalam kerangka demokrasi lokal, partai bukan sekadar kendaraan politik, tetapi juga kanal artikulasi kepentingan publik dan mitra strategis pemerintah.
Pernyataan Wahyu juga dapat dibaca sebagai pengakuan atas peran Golkar dalam lanskap politik Konsel.
Di bawah kepemimpinan Irham Kalenggo, partai ini dinilai mampu menjaga stabilitas politik yang kondusif—sebuah modal penting dalam menghadapi kontestasi yang semakin kompetitif.


