Konawe Selatan, Katasulsel.com — Politik selalu punya dua wajah. Yang tampak di permukaan, dan yang bergerak senyap di balik layar. Musyawarah Daerah (Musda) V Golkar Konawe Selatan, Minggu (29/3/2026), memperlihatkan keduanya sekaligus.
Di panggung resmi, semua terlihat rapi. Senyum tersungging, tepuk tangan terdengar terukur, dan pidato-pidato penuh optimisme mengalir tanpa jeda. Tapi di balik itu, ada satu hal yang lebih penting: penguncian barisan politik jelang pertarungan besar di Konawe Selatan.
Musda ini seperti ruang “sterilisasi” internal. Tidak ada riak berarti, tidak ada faksi yang mencuat ke permukaan. Dalam bahasa politik, ini bukan sekadar solid—ini tanda bahwa orkestrasi kekuasaan berjalan tanpa gangguan berarti.
Ketua DPD I Golkar Sulawesi Tenggara, La Ode Darwin, tampak memahami betul pentingnya momentum ini. Ia tidak banyak berbasa-basi. Pesannya lugas: jangan ada “politik di dalam partai politik”. Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi sarat makna.
Di dunia politik, kalimat itu sering menjadi sandi: tidak ada ruang untuk manuver bawah tanah, tidak ada toleransi untuk dualisme loyalitas. Semua harus satu arah, satu komando, satu tujuan—memenangkan pertarungan di Konawe Selatan.
Dan tujuan itu kini dipasang cukup tinggi: 14 kursi DPRD Konawe Selatan.
Angka ini bukan sekadar target. Ini adalah deklarasi ambisi. Dari tujuh kursi saat ini, Golkar ingin melompat dua kali lipat. Sebuah lompatan yang hanya mungkin terjadi jika mesin partai benar-benar bekerja sampai ke level paling bawah: desa, dusun, hingga lorong-lorong kecil pemilih.
Di sinilah politik mulai menjadi menarik. Karena setelah Musda selesai, yang bekerja bukan lagi panggung, tapi jaringan. Bukan lagi pidato, tapi kalkulasi.
Ketua DPD II Golkar Konawe Selatan, Irham Kalenggo, berada di titik sentral dari semua itu. Ia bukan hanya pemimpin formal, tapi juga “dirigen” yang mengatur ritme permainan. Pernyataannya yang siap kembali memimpin jika diberi mandat, bisa dibaca sebagai sinyal stabilitas—atau bahkan penguatan status quo.
Dalam politik lokal seperti Konawe Selatan, stabilitas kepemimpinan seringkali menjadi kunci. Terlalu banyak perubahan justru bisa memecah konsentrasi. Tapi di sisi lain, stagnasi juga bisa menjadi jebakan jika tidak diiringi inovasi strategi.
Wakil Bupati Konawe Selatan, Wahyu Ade Pratama Imran, menambah lapisan menarik dalam dinamika ini. Ia mengingatkan bahwa Golkar bukan sekadar partai, tapi juga bagian dari ekosistem kekuasaan di Konawe Selatan. Ada relasi yang tak terpisahkan antara partai, pemerintahan, dan publik.


