Sidrap, katasulsel.com — Pagi itu, Minggu, 29 Maret 2026, udara di Hutan Kota Monumen Ganggawa terasa berbeda. Bukan karena cuaca. Tapi karena berkumpulnya para pemilik dan pelaku media daring dalam satu momentum: pelantikan pengurus Jaringan Media Siber Indonesia Kabupaten Sidrap periode 2025–2030.
Sekitar 30 lebih perusahaan media hadir. Angka yang, untuk ukuran daerah, bukan kecil. Ini bukan sekadar kumpul-kumpul. Ini semacam “rapat keluarga besar” yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Ketua JMSI Sidrap, Syafruddin Wela, tak menutup cerita di balik layar. Tujuh bulan proses persiapan. Bukan waktu singkat untuk sekadar pelantikan.
Ia menyebut, sejak menerima mandat dari JMSI Sulawesi Selatan pada Agustus tahun lalu, pekerjaan terbesar justru bukan di seremoni, melainkan pendataan. Siapa punya media, siapa benar-benar menjalankan perusahaan pers, dan siapa yang hanya sekadar “nama”.
Di titik itu, satu hal mulai terlihat: ekosistem media di Sidrap ternyata tumbuh cepat, tapi belum sepenuhnya tertata.
Jumlah media yang lebih dari 30 itu ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ini tanda gairah. Di sisi lain, ini tantangan serius. Karena banyaknya media tidak otomatis berarti sehat.
Di sinilah tema “Media Sehat, Jurnalis Terlindungi” diuji, bukan sekadar diucapkan.
Syafruddin menyinggung hal yang sering dihindari: regulasi. Menjalankan media secara administratif, kata dia, tidak ringan. Banyak aturan, banyak standar. Tidak semua mampu bertahan.
Namun, justru di tengah tekanan itu, ia melihat optimisme. Banyak media lokal di Sidrap tetap berdiri, bahkan berkembang.
Masalah berikutnya lebih sensitif: kesejahteraan jurnalis.
Ia berbicara lugas. Sulit mengharapkan produk jurnalistik yang berkualitas jika jurnalis bekerja dalam tekanan ekonomi atau kekhawatiran personal. Pikiran yang tidak tenang, menurutnya, akan berimbas langsung pada kualitas berita.
Karena itu, langkah JMSI Sidrap menggandeng BPJS Kesehatan menjadi penting. Bukan sekadar kerja sama formal, tetapi upaya membangun rasa aman bagi pekerja media yang setiap hari berada di lapangan.
Rencana ke depan bahkan lebih luas. Koordinasi dengan BPJS Ketenagakerjaan juga disiapkan. Ini menandai perubahan cara pandang: jurnalis tidak lagi hanya dilihat sebagai profesi idealis, tapi juga pekerja yang butuh perlindungan nyata.
Di sisi lain, Syafruddin juga menyentil soal arah pemberitaan. Ia mendorong media untuk menghadirkan konten positif, tanpa kehilangan objektivitas.
Baginya, informasi bukan sekadar berita. Ia punya dampak psikologis dan ekonomi. Berita negatif yang berlebihan bisa memicu ketakutan, bahkan mempengaruhi iklim usaha di daerah.
Pernyataan ini bisa jadi mengundang perdebatan. Karena di dunia jurnalistik, garis antara “positif” dan “realitas” seringkali tipis. Tapi setidaknya, JMSI Sidrap mencoba membuka diskusi itu sejak awal.
Pelantikan ini akhirnya bukan hanya tentang struktur organisasi baru. Ia menjadi titik awal—atau mungkin ujian pertama—bagi JMSI Sidrap: apakah mampu benar-benar membangun ekosistem media yang sehat, atau hanya berhenti di slogan.
Waktu yang akan menjawab. Namun dari Hutan Kota Ganggawa hari itu, satu pesan sudah dilempar ke publik: media lokal Sidrap sedang berbenah. (*)


