Jakarta, Katasulsel.com — Austin tak selalu ramah bagi semua pembalap muda. Di lintasan panjang dan teknis Circuit of the Americas, satu kesalahan kecil bisa menjatuhkan segalanya—dan itu yang kini dirasakan Hakim Danish.

Pembalap Malaysia itu harus menerima kenyataan pahit usai kualifikasi Moto3 Amerika 2026. Ia terlempar ke posisi paling belakang, start ke-24—grid yang menempatkannya di jalur paling terjal saat lampu start padam.

Padahal, modal ke Austin tidak sepenuhnya buruk. Di seri Brasil, Danish sempat mencuri perhatian dengan start dari posisi tiga dan finis di 10 besar. Namun di Amerika, ritme itu seperti menguap.

Kualifikasi berjalan keras. Persaingan ketat sejak Q1 hingga Q2 membuat celah waktu begitu tipis. Saat para rival mampu memaksimalkan slipstream dan momentum, Danish justru tertinggal jauh dalam catatan waktu.

Advertisement

Di sisi lain lintasan, cerita berbeda ditulis Veda Ega Pratama.

Pembalap muda Indonesia itu kembali menunjukkan grafik menanjak. Ia mengunci posisi start keempat—barisan kedua—sebuah titik ideal untuk memburu podium. Bukan kali pertama, setelah sebelumnya ia sukses naik podium di Brasil.

Kontras itu terasa mencolok. Satu berjuang dari belakang, satu lagi bersiap menyerang dari depan.

Bagi Danish, balapan nanti bukan lagi soal podium. Targetnya lebih realistis: menembus zona poin, bertahan dari potensi insiden di tikungan pertama, dan memanfaatkan kekacauan yang kerap terjadi di Moto3.

Sementara bagi Veda, skenarionya berbeda. Start dari P4 membuka peluang besar untuk kembali bertarung di rombongan depan—bahkan mengulang, atau melampaui, capaian sebelumnya.

Advertisement

Austin akan jadi panggung dua cerita.

Satu tentang bertahan hidup dari barisan paling belakang.
Satu lagi tentang mendekat, sangat dekat, ke podium. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.