Sidrap, Katasulsel.com — Pagi di Pakatto, Kabupaten Gowa, tidak seperti biasanya, Senin (30/3/2026).
Barisan itu rapi. Langkah-langkah tegap. Wajah-wajah yang biasanya akrab dengan meja kerja dan berkas administrasi, kini berdiri dalam suasana berbeda: latihan dasar militer.
Di Rindam XIV/Hasanuddin, sebuah pesan sedang ditegaskan—perlahan, tapi jelas.
ASN bukan sekadar pegawai.
Wakil Bupati Sidenreng Rappang, Nurkanaah, hadir langsung menyaksikan pembukaan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad) ASN Tahun 2026 itu. Ia datang tidak sendiri. Di sampingnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Perempuan dan Perlindungan Anak Sidrap, Andi Surya Praja Hadiningrat.
Di hadapan ratusan peserta, kegiatan itu dibuka resmi oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, didampingi Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi.
Hadir pula unsur Forkopimda, perwakilan Kementerian Pertahanan, hingga kepala daerah se-Sulawesi Selatan.
Tidak kurang dari 500 peserta ikut dalam gelombang pertama ini. Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota. Dari kantor-kantor pemerintahan. Dari rutinitas yang biasanya jauh dari nuansa barak dan disiplin militer.
Di sinilah semuanya diubah.
Latihan ini bukan sekadar formalitas. Bukan pula sekadar seremonial.
Ada tujuan yang lebih dalam: membentuk karakter.
“Melalui pelatihan ini, diharapkan karakter ASN semakin kuat,” kata Nurkanaah.
Bukan hanya soal disiplin. Tapi juga tentang kesadaran: bahwa dalam situasi tertentu, negara bisa memanggil siapa saja.
Termasuk ASN.
Karena itu, Komcad bukan konsep kosong. Ia adalah cadangan. Ia adalah kesiapan. Ia adalah jawaban ketika negara membutuhkan.
Di sisi lain, ada fakta menarik.
Kepala Dinas Pemdes PPA Sidrap, Andi Surya Praja Hadiningrat, menyebut kegiatan ini juga bersentuhan langsung dengan desa. Para kepala desa se-Sulawesi Selatan ikut terlibat, setidaknya dalam rangkaian kegiatan.
Khusus dari Sidrap, ada 68 kepala desa yang hadir.
Angka yang tidak kecil.
Artinya, pesan bela negara itu tidak berhenti di kota. Ia dibawa pulang ke desa. Ditanam di masyarakat paling bawah.
Pelan-pelan.
Mungkin tidak langsung terasa.
Tapi inilah cara negara bekerja: menyiapkan, bukan menunggu.
Di Pakatto, hari itu, bukan hanya latihan yang dimulai.
Tapi juga pengingat—bahwa pengabdian kepada negara, kadang hadir dalam bentuk yang tidak biasa. (*)
