California, Katasulsel.com – Waktu sudah bergeser. Ramadhan telah berlalu, dan hari ini Jumat, 3 April 2026. Aktivitas akademik di University of California, Riverside (UCR) kembali berjalan normal. Namun bagi mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), ada satu momen yang masih membekas kuat—hangat, sederhana, tapi penuh makna.

Itu terjadi pada Minggu, 8 Maret 2026. Saat sebagian orang mungkin hanya melihat buka puasa sebagai rutinitas, bagi mereka yang berada jauh dari Indonesia, momen itu berubah menjadi ruang pulang—meski sementara.

Di kediaman Prof. Muhamad Ali di Riverside, suasana terasa berbeda. Tidak ada jarak antara dosen dan mahasiswa. Dapur menjadi titik temu. Tawa pecah di sela-sela aktivitas memasak. Aroma masakan perlahan memenuhi ruangan, menghadirkan nuansa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Semua terlibat. Ada yang memotong bahan, ada yang mengaduk, ada yang menata hidangan. Di tengah itu, sosok Bunda Binthaj Fadila—yang akrab disapa Bundil—hadir sebagai figur kehangatan. Ia bukan sekadar tuan rumah, tetapi seperti ibu bagi mereka yang sedang jauh dari keluarga.

“Rasanya seperti di rumah sendiri,” ungkap salah satu mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa PKUMI lintas angkatan menambah makna pertemuan tersebut. Mahasiswa doktoral angkatan 4.0 yang bersiap kembali ke Indonesia turut hadir. Ada suasana haru yang tak terucap—pertemuan yang sekaligus menjadi perpisahan.

Kehangatan itu ternyata bukan terjadi begitu saja. Sejak awal kedatangan di bulan Maret, perhatian keluarga Prof. Ali sudah terasa. Para mahasiswa bahkan diajak langsung berbelanja kebutuhan dasar—dari beras hingga perlengkapan dapur. Hal-hal yang mungkin sederhana, tetapi menjadi penting bagi mereka yang sedang beradaptasi di negeri orang.

Tak hanya itu, mobilitas mahasiswa juga diperhatikan. Prof. Ali dan keluarga beberapa kali mengantar-jemput mahasiswa dari University Village Apartments. Perjalanan bolak-balik itu dilakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa kesan formal.

Kini, setelah Ramadhan berlalu, suasana kembali berubah. Jadwal padat, tuntutan akademik, dan tekanan studi di luar negeri kembali menjadi realitas sehari-hari. Namun kenangan buka puasa itu seperti menyisakan energi tersendiri—penguat di tengah perjalanan panjang mereka.

Dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memang menjadi fondasi penting dalam memastikan kelancaran studi. Tetapi lebih dari itu, pengalaman kebersamaan seperti inilah yang membentuk sisi lain perjalanan mereka—lebih manusiawi, lebih dalam.

Di Riverside, para mahasiswa PKUMI tidak hanya belajar tentang ilmu dan metodologi. Mereka juga belajar tentang arti kebersamaan, kepedulian, dan bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia akademik yang kompetitif.

Dan dari sebuah rumah sederhana, di momen berbuka puasa, pelajaran itu justru terasa paling nyata.(*)

Gambar berita Katasulsel