Sidrap, katasulsel.com — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI Amalia Adininggar Widyasanti sempat menggeleng kepala saat menyaksikan langsung aktivitas peternakan ayam petelur di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Kamis (12/3/2026).
Bukan karena kecewa.
Gelengan itu justru tanda heran sekaligus takjub melihat skala produksi telur dari daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung telur di Sulawesi Selatan.
Siang itu, di kawasan peternakan ayam petelur Mario, Kecamatan Kulo, puluhan truk berjejer. Bak truk mereka dipenuhi rak telur. Ribuan rak. Sebagian pekerja sibuk mengangkut, sebagian lagi memastikan telur tersusun rapi sebelum berangkat menuju berbagai daerah di Indonesia.
Di tengah aktivitas itu, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif berdiri bersama para peternak. Ia memimpin langsung pelepasan pengiriman telur dalam jumlah besar yang nilainya mencapai Rp3,8 miliar.
Momentum tersebut berlangsung bertepatan dengan kunjungan kerja Kepala BPS RI ke Kabupaten Sidrap.
Ketika deretan truk mulai bergerak meninggalkan lokasi peternakan, Amalia tampak tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan.
“Luar biasa,” ujarnya singkat.
Bagi Amalia, apa yang terjadi di Sidrap bukan sekadar kegiatan pengiriman telur biasa. Ia melihat langsung bagaimana sektor peternakan mampu menjadi penggerak ekonomi daerah.
Di hadapan para peternak dan tamu undangan, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menjelaskan bahwa kegiatan itu menjadi simbol semakin kuatnya posisi Sidrap sebagai lumbung telur Indonesia.
“Hari ini kita melaksanakan kegiatan pengiriman telur lokal Kabupaten Sidrap ke berbagai wilayah Indonesia untuk meneguhkan Sidrap sebagai lumbung telur Indonesia,” ujar Syaharuddin disambut tepuk tangan para peternak.
Ia memaparkan bahwa sektor peternakan ayam petelur kini menjadi salah satu pilar ekonomi utama daerah tersebut.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sidrap yang termasuk tertinggi di Sulawesi Selatan tidak lepas dari kekuatan sektor peternakan.
“Populasi ayam petelur kita sekarang sekitar 5.117.000 ekor dengan produksi sekitar 5 juta butir telur setiap hari,” jelasnya.
Dari produksi itu, kata Syaharuddin, perputaran uang yang tercipta bisa mencapai Rp12 miliar setiap hari.
Telur-telur dari Sidrap tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal
Pada kegiatan itu saja, sejumlah perusahaan peternakan melepas pengiriman telur dalam jumlah besar.
Perusahaan Cahaya Mario mengirim 13 truk telur ke berbagai daerah seperti Berau, Balikpapan, Kendari, Manado, Samarinda, Kolaka, Nunukan, Makassar, Bajoe, dan Siwa dengan total nilai sekitar Rp2,045 miliar.
Sementara Dirga Group mengirim satu truk telur senilai Rp80 juta ke Makassar dan Kalimantan Timur.
Perusahaan Yusra Palupi Damai mengirim telur ke Makassar senilai Rp137 juta.
Kemudian Puncak Ternak mengirim telur ke Samarinda dengan nilai sekitar Rp1,37 miliar.
Sedangkan Mitra Mandiri mengirim telur ke Kendari senilai Rp159 juta.
Secara keseluruhan, telur yang dilepas hari itu mencapai sekitar 71 ribu rak dengan nilai ekonomi sekitar Rp3,8 miliar.
Syaharuddin bahkan menyampaikan harapan besar kepada Kepala BPS RI.
Ia berharap suatu hari nanti Presiden Republik Indonesia dapat datang langsung ke Sidrap untuk melepas pengiriman telur ke seluruh Indonesia.
“Kami berharap Ibu Kepala BPS dapat menyampaikan kepada Bapak Presiden bahwa suatu saat Presiden juga bisa datang melepas langsung telur dari Sidrap untuk Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan apresiasi atas capaian sektor peternakan di Kabupaten Sidrap.
Menurutnya, apa yang dilakukan para peternak di daerah tersebut memberikan kontribusi penting bagi ketahanan pangan nasional.
“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kami melepas pengiriman telur, daging ayam, serta day old chick atau DOC sebagai wujud keberhasilan Kabupaten Sidrap dalam mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan,” ujar Amalia.
Ia juga menegaskan bahwa BPS akan terus menghadirkan data statistik yang berkualitas sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Di tengah deretan truk yang perlahan meninggalkan lokasi peternakan, gelengan kepala Amalia tadi seolah menjadi simbol.
Bahwa dari sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, jutaan telur setiap hari bergerak menyuplai kebutuhan pangan Indonesia. (*)



Tinggalkan Balasan