📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

SIDRAP, Katasulsel.com — Angin di perbukitan itu tidak pernah benar-benar diam. Ia berputar. Menggeliat. Kadang lirih, kadang kencang. Kini, angin itu kembali dibicarakan di meja negosiasi.

Sabtu itu (14/2/2026), ruang pertemuan di Sidrap terasa “panas”. Bukan karena cuaca. Tapi karena deal besar sedang digodok. Bupati Syaharuddin Alrif dan Wakil Bupati Nurkana’ah duduk satu meja dengan investor PT Barito. Mr. Kim ikut hadir. Lengkap dengan tim.
Topiknya jelas. Kelanjutan PLTB Sidrap tahap II.

Bahasanya teknis. Substansinya politis. Dampaknya ekonomis.

Targetnya tidak main-main: tambahan sekitar 20 turbin angin. Daya listrik melonjak dari 75 Megawatt menjadi 100 Megawatt. Kalau ini terealisasi, Sidrap makin sah jadi “Ibukota Angin” di Sulawesi Selatan.

Negosiasi berlangsung maraton. Dari pagi sampai sore. Tidak ada coffee break yang benar-benar santai. Semua serius. Semua fokus. Karena yang dibicarakan bukan sekadar proyek, tapi multiplier effect.

Bupati menyebut pertemuan itu sebagai ikhtiar demi kesejahteraan warga. Bahasa formalnya begitu. Tapi kalau diterjemahkan ke bahasa lapangan: jangan sampai investor cuan, rakyat cuma kebagian debu.

Di sinilah sisi uniknya.

Ada enam poin yang disepakati. Dan ini bukan template proyek biasa.
Pertama, pembagian hasil bonus produksi. Ini menarik. Artinya, ada ruang bagi daerah ikut merasakan “bonus angin”. Tidak sekadar dapat listrik, tapi juga nilai tambah.

Kedua, akses masyarakat untuk berkunjung dan berfoto di area tertentu. Kedengarannya sederhana. Tapi ini simbolik.

PLTB tidak lagi eksklusif. Bisa jadi spot healing. Bisa jadi konten Instagramable. Energi bertemu estetika.

Ketiga, kawasan tourism area tetap dilanjutkan sesuai konsep awal. Jadi bukan cuma deretan turbin. Tapi ekosistem wisata. Angin dijual sebagai experience.

Keempat, pembangunan dan renovasi jalan sekitar kawasan. Infrastruktur itu kunci. Tanpa akses bagus, investasi cuma jadi pajangan di atas bukit.

Kelima, pengadaan sarana persampahan dan bibit tanaman. Green energy harus benar-benar green. Jangan sampai energi bersih, lingkungannya jorok.

Keenam, CSR dibahas kolaboratif. Tidak lagi model “kami kasih, kalian terima”. Tapi diselaraskan dengan prioritas pembangunan daerah. Lebih terarah. Lebih tepat sasaran.

Inilah yang membuat proyek ini bukan sekadar ekspansi daya. Tapi reposisi Sidrap dalam peta energi terbarukan.
Sidrap selama ini dikenal sebagai lumbung beras. Kini ia juga lumbung angin. Dua-duanya sama-sama soal ketahanan: pangan dan energi.

Kalau tahap II ini tancap gas, dampaknya bukan cuma pada jaringan listrik. Tapi juga pada citra daerah. Branding Sidrap bisa naik kelas. Dari kabupaten agraris menjadi kabupaten energi.

Angin itu gratis. Tapi ketika dikelola serius, ia bisa jadi sumber daya strategis.
Sidrap tampaknya paham. Angin tidak cukup dibiarkan berembus. Ia harus ditangkap. Dikelola. Lalu dikembalikan manfaatnya ke rakyat.

Itu kalau komitmen di meja negosiasi benar-benar dijaga sampai turbin terakhir berputar. (*)