Makassar, Katasulsel.com – Ruang Sipakatau pagi itu panas tapi tidak panas karena cuaca, melainkan karena aura Appi. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, berdiri di podium, tatapan tegas, suara lantang, memberikan ultimatum yang bikin seluruh SKPD merinding—dengan cara yang baik.
“Kalau di posisi lama sudah oke, di posisi baru harus lebih dari itu. Harus istimewa!” katanya, menekankan transisi jabatan yang bukan sekadar pindah kursi, tapi langsung berdampak ke pembangunan.
Di hadapannya, 27 pejabat baru dilantik. Dari Dinas PU yang jadi pusat perhatian—jalan, jembatan, prasarana, semua berada di bawah sorotan—hingga RSUD Daya, yang menurut Appi bukan cuma rumah sakit, tapi wajah pelayanan pemerintah.
Appi tidak main-main. Ia menekankan: “Kalau pola kerja OPD kuat, semuanya akan jalan lancar. Jangan tunggu di ujung baru kejar serapan. Kalau kita miss di depan, ke belakang berantakan!”
Di sela pelantikan, pembaca bisa membayangkan gesekan sepatu pejabat di lantai marmer Balai Kota, suara kamera mengklik, dan tatapan lurus Appi yang seperti berkata: “Ini rumah besar kita, jangan rusak citranya!”
Dalam perhatian khususnya, Dinas PU menjadi sorotan utama. Semua bidang diingatkan untuk bergerak gesit, saling mendukung, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa drama. “Program prioritas banyak di PU, saya tidak mau mendengar ada pekerjaan berhenti karena keraguan atau human error,” tegasnya.
Selain itu, pelayanan kesehatan di RSUD Daya juga diperhatikan. Dokter hebat, katanya, tapi pola pelayanan dan infrastruktur harus ditingkatkan agar warga benar-benar merasakan kehadiran pemerintah.
Tak kalah penting, Appi menekankan soliditas dan strong leadership di setiap OPD. Semua harus bergerak sebagai tim yang rapat, tanpa celah, menjaga rumah besar Makassar tetap kokoh. Masalah internal jangan diumbar ke publik.
Nama-nama pejabat yang dilantik pun unik: dari dr. Reini Meilani Isbarch di RSUD Daya, Muhammad Amin dan Suriady di PU, hingga A. Irwan Bangsawan sebagai Plt Asisten I. Setiap nama menjadi bagian rantai percepatan pembangunan dan pelayanan prima.
Apa yang membuat berita ini unik ala Disway? Karena pembaca bukan hanya mendengar informasi, tapi seolah melihat, mendengar, dan merasakan suasana: lantai marmer berkilau, tatapan tegas Appi, detak jantung pejabat baru, hingga desiran kebijakan yang langsung berdampak di jalan, jembatan, dan ruang publik Makassar.
Di bawah kepemimpinan Appi, Makassar bukan sekadar kota, tapi laboratorium percepatan pelayanan publik. Semua bergerak cepat, solid, dan langsung terasa manfaatnya di lapangan. Rumah besar Makassar dijaga bersama—setiap OPD, setiap pejabat, setiap program prioritas.(*)

Tinggalkan Balasan