📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMakassar, Katasulsel.com — Senja di Anjungan Pantai Losari selalu punya cara sendiri memikat warga. Namun Rabu petang itu, suasananya berbeda. Lampu-lampu mulai menyala, pelataran Masjid Amirul Mukminin dipenuhi tenda UMKM, dan panggung utama berdiri menghadap laut. Di sanalah Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, membuka Festival Mulia Ramadan.
Bagi publik, ini mungkin sekadar seremoni pembuka. Tetapi bagi Appi—sapaan akrabnya—festival ini adalah pesan. Bahwa Ramadan bukan hanya ruang ibadah personal, melainkan momentum sosial dan ekonomi.
Ia datang bersama Wakil Wali Kota dan jajaran pimpinan SKPD. Tidak banyak basa-basi. Appi langsung menegaskan bahwa pelaksanaan festival di kawasan Losari harus menjadi panggung bagi pelaku usaha kecil.
“Festival ini memberi ruang kepada saudara-saudara kita UMKM untuk tumbuh bersama. Ramadan harus membawa berkah bagi semua,” ujarnya.
Pilihan lokasi bukan tanpa makna. Pantai Losari adalah wajah Makassar. Ketika festival digelar di jantung kota, pesan yang dikirim jelas: UMKM tidak lagi berada di pinggir, mereka ditempatkan di etalase utama.
Di pelataran masjid terapung itu, aroma takjil bercampur angin laut. Aneka kuliner lokal berjejer. Warga yang datang untuk ngabuburit tak hanya menunggu azan, tetapi juga menikmati lomba dai cilik, kegiatan religius, dan berbagai agenda amaliah Ramadan.
Appi bahkan secara terbuka mengajak warga menjadikan lokasi ini sebagai titik temu menjelang berbuka. “Datangmi semua. Banyak kegiatan di sini,” katanya ringan, namun penuh maksud.
Pemerintah kota, kata dia, memastikan kebersihan dan ketertiban menjadi prioritas. Festival tidak boleh meninggalkan jejak sampah atau kesemrawutan. Spiritualitas harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang rapi.
Lebih jauh, festival ini menyimpan agenda yang lebih dalam: memperkuat ekonomi kerakyatan. Di tengah tantangan daya beli dan persaingan pasar modern, pelaku UMKM membutuhkan panggung dan legitimasi. Kehadiran pemerintah menjadi bentuk keberpihakan.
Berbagai brand kuliner lokal dipastikan ambil bagian. Bagi mereka, Ramadan adalah musim harapan. Dan bagi pemerintah kota, inilah momentum membuktikan bahwa keberpihakan tidak cukup lewat kebijakan di atas kertas—ia harus hadir di ruang publik.
Appi berharap Festival Mulia Ramadan tak berhenti sebagai acara musiman. Ia ingin menjadikannya agenda tahunan yang lebih besar dan lebih meriah di tahun-tahun mendatang.
Di bawah langit senja Losari, pesan itu mengendap: Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang menggerakkan solidaritas, menguatkan silaturahmi, dan menyalakan ekonomi rakyat.
Dan Makassar, setidaknya malam itu, tampak sepakat. (*)








Tinggalkan Balasan