📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, Katasulsel.com — Ramadan bukan sekadar pergantian bulan. Ia adalah madrasah ruhani. Tempat iman ditempa, amanah diuji.

Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, memilih membuka Ramadan 1447 Hijriah dengan langkah yang seimbang: memperkuat spiritualitas, sekaligus memastikan denyut ekonomi rakyat tetap stabil.

Menunggu Isbat, Menata Niat

Selasa malam (17/2/2026), Syaharuddin bersama Wakil Bupati dan Ketua TP PKK dijadwalkan melaksanakan salat Isya dan Tarawih perdana di Masjid Agung Pangkajene.

Salat Isya berjamaah digelar sembari menunggu hasil sidang isbat penetapan awal Ramadan. Suasananya bukan hanya khidmat, tetapi sarat makna. Sekda, Ketua DWP, para asisten, staf ahli, kepala OPD, kabag hingga jajaran humas turut hadir.

Ramadan, bagi Syaharuddin, bukan hanya momentum pribadi. Ia ingin birokrasi juga ikut “berpuasa” — menahan diri dari ego sektoral, memperbanyak pelayanan, dan memperhalus akhlak dalam bekerja.

Instruksi pun jelas: para camat dan lurah/kepala desa melaksanakan Tarawih di wilayah masing-masing. Pemerintahan menyatu dengan umat. Tak ada jarak.

Rabu pagi (18/2/2026), agenda berlanjut. Dari sajadah menuju pasar.

Pukul 09.00 WITA, Bupati bersama Forkopimda memantau langsung harga kebutuhan pokok dan ketersediaan barang penting di Pasar Pangkajene. Titik kumpul di rumah jabatan bupati.

Ramadan adalah bulan ibadah. Tapi ia juga bulan ujian ekonomi. Harga bisa melonjak. Stok bisa menipis.

Syaharuddin tak ingin ada keresahan menjelang puasa. Baginya, menjaga stabilitas harga adalah bagian dari menjaga ketenangan umat dalam beribadah. Jangan sampai kekhusyukan terganggu oleh mahalnya beras atau langkanya minyak goreng.

Bahasa sederhananya: ibadah harus tenang, dapur rakyat harus aman.

Siang Hari, Syukur di Hamparan Sawah

Belum selesai urusan pasar, Bupati melanjutkan agenda panen jagung di Mattirotasi pukul 10.30 WITA. Siangnya lagi, pukul 13.30 WITA, panen padi digelar di Kelurahan Lakessi, Kecamatan Maritengngae.

Di tengah Ramadan, panen adalah simbol syukur. Tanah tetap subur. Petani tetap bekerja. Rezeki tetap mengalir.

Syaharuddin ingin memastikan satu hal: Ramadan tidak mematikan produktivitas. 

Justru menjadi penguat niat dan keikhlasan dalam bekerja.

Ramadan sebagai Momentum Tazkiyatun Nafs dan Tanggung Jawab Publik

Awal Ramadan di Sidrap kali ini terasa lebih bernapas nilai. Ibadah ditegakkan. Harga diawasi. Pangan dijaga.

Bagi Syaharuddin, kepemimpinan bukan hanya soal program. Tapi juga soal keteladanan. Dari masjid ke pasar, dari pasar ke sawah.

Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Dan bagi pemerintah, itu berarti mengendalikan inflasi, mengendalikan distribusi, serta mengendalikan ego kekuasaan.

Sidrap memasuki Ramadan dengan satu pesan kuat: spiritualitas dan pelayanan publik harus berjalan seiring. Karena sejatinya, memimpin juga adalah ibadah. (*)