Makassar, katasulsel.com — Kepemimpinan Syaharuddin Alrif di Partai NasDem Sulawesi Selatan tidak lahir dalam ruang hampa. Di balik penunjukannya sebagai Ketua DPW NasDem Sulsel, terbaca isyarat kuat relasi politik yang terbangun lama dengan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Kedekatan itu bukan sekadar relasi struktural, melainkan ikatan kepercayaan yang teruji oleh waktu dan kerja politik.

Salah satu penanda simbolik kedekatan tersebut terekam dalam sebuah foto yang sempat tertangkap kamera pada sebuah agenda penting Partai NasDem beberapa waktu lalu. Dalam momen itu, Surya Paloh terlihat berdiri berdekatan dengan Syaharuddin Alrif, berbincang dalam gestur akrab di tengah forum elite partai. Bagi kalangan internal NasDem, foto semacam itu bukan sekadar dokumentasi acara, melainkan bahasa politik yang sarat makna.

Dalam tradisi politik partai modern, kedekatan fisik dan atensi personal Ketua Umum terhadap seorang kader sering dibaca sebagai sinyal kepercayaan. Apalagi, Surya Paloh dikenal sebagai figur sentral yang selektif dalam memberi ruang dan kedekatan kepada kader daerah. Maka, kemunculan Syahar dalam lingkaran tersebut mempertegas posisinya bukan hanya sebagai pengurus wilayah, tetapi sebagai bagian dari orbit strategis kepemimpinan NasDem.

Relasi Surya Paloh dan Syaharuddin Alrif dibangun melalui jalur panjang kerja organisasi. Syahar adalah kader organik, tumbuh sejak fase awal NasDem di Sulawesi Selatan, dan selama satu dekade terakhir menjadi Sekretaris DPW mendampingi Rusdi Masse Mappasessu. Dalam posisi itu, Syahar kerap menjadi jembatan komunikasi antara pusat dan daerah, menerjemahkan garis kebijakan DPP ke dalam kerja-kerja struktural di Sulsel.

Di mata DPP, peran semacam itu bernilai strategis. Ia tidak sekadar mengelola administrasi, tetapi menjaga irama organisasi dan stabilitas politik wilayah. Di sinilah kepercayaan Surya Paloh terbangun secara gradual, bukan melalui manuver politik sesaat, melainkan melalui konsistensi, loyalitas, dan kemampuan menjaga disiplin partai.

Penunjukan Syahar sebagai Ketua DPW NasDem Sulsel, dengan demikian, dapat dibaca sebagai keputusan yang sejalan dengan preferensi politik Surya Paloh: mengedepankan kader yang memahami ideologi partai, kuat dalam struktur, dan memiliki ketahanan organisasi. Dalam konteks ini, kedekatan personal yang terlihat di ruang publik adalah refleksi dari kedekatan politik yang telah lama teruji.

Bagi NasDem Sulsel, relasi Syahar dengan Ketua Umum menjadi modal penting di tengah fase transisi pasca-pergantian kepemimpinan dari Rusdi Masse. Kedekatan tersebut memberi pesan kuat kepada kader di daerah bahwa kepemimpinan baru memiliki legitimasi pusat, sekaligus akses komunikasi langsung dengan pucuk pimpinan partai.

Dalam politik internal partai, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi. Sebuah foto, sebuah gestur, atau sebuah percakapan singkat di forum elite bisa menjadi penanda arah angin kekuasaan. Dan dalam konteks NasDem hari ini, kedekatan Surya Paloh dan Syaharuddin Alrif menjadi sinyal bahwa kepemimpinan DPW Sulsel berada dalam orbit kepercayaan Ketua Umum.

Pada akhirnya, politik bukan hanya soal jabatan, tetapi soal kepercayaan. Dan kedekatan yang terpotret antara Surya Paloh dan Syaharuddin Alrif menunjukkan bahwa di balik struktur formal, ada relasi politik yang matang—relasi yang menjadi fondasi bagi NasDem Sulawesi Selatan menapaki babak baru kepemimpinan. (*)