📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppKatasulsel.com — Inter Milan menang, tapi bukan dengan cara glamor. Justru di situlah ceritanya menarik. Di laga perempat final Coppa Italia yang digelar di U-Power Stadium, Kamis dini hari WIB, Nerazzurri lolos ke semifinal lewat skor tipis 2-1 atas Torino—kemenangan yang lebih banyak bicara soal ketahanan mental ketimbang pesta gol.
Main di venue netral karena Giuseppe Meazza “disulap” demi pembukaan Olimpiade Musim Dingin, Inter kehilangan kenyamanan rumah. Tapi Simone Inzaghi tampak tak ambil pusing. Ia menjadikan laga ini sebagai panggung rotasi, eksperimen, sekaligus ujian karakter. Torino? Datang bukan sebagai figuran.
Inter sebenarnya sudah memberi sinyal sejak awal. Menit ke-20, Carlos Augusto melepas tembakan jarak jauh yang membentur mistar. Gol itu seperti tertunda, bukan gagal. Dan penundaan itu justru membuka ruang cerita lain: debut Issiaka Kamate.
Nama Kamate mungkin asing bagi banyak orang, tapi malam itu ia mencuri momen. Winger muda itu melepas umpan silang matang di menit ke-35, disambut sundulan Ange-Yoan Bonny. Gol pembuka Inter lahir bukan dari nama besar, melainkan dari keberanian memainkan darah segar. Skor 1-0 bertahan hingga jeda.
Babak kedua baru berjalan tiga menit, Inter kembali menggigit. Kali ini kombinasi pengalaman dan insting menyerang bicara. Marcus Thuram menusuk dari kanan, mengirim umpan tarik yang diselesaikan Andy Diouf. Bukan gol spektakuler, tapi efektif. Inter unggul 2-0 dan terlihat mulai nyaman.
Namun Torino menolak menyerah. Tim asuhan Ivan Juric bermain keras, rapat, dan sabar menunggu celah. Menit ke-57, keberuntungan berpihak pada mereka. Umpan silang Pedersen yang sempat berubah arah justru memanjakan Sandro Kulenovic. Sundulannya menaklukkan kiper Inter, skor menjadi 2-1. Laga kembali hidup.
Tekanan Torino meningkat. Inter mulai bermain lebih pragmatis—menjaga ritme, mengulur tempo, dan menutup ruang. Jantung Nerazzurri sempat berdegup kencang di menit ke-74 ketika Matteo Prati menyundul bola ke gawang. Tapi bendera offside menyelamatkan Inter dari mimpi buruk.
Sisa laga dihabiskan Inter dengan bertahan cerdas, bukan panik. Tidak ada drama berlebihan, hanya manajemen pertandingan ala tim matang. Peluit akhir berbunyi, Inter lolos—tanpa sorak besar, tanpa euforia, tapi dengan tiket semifinal di tangan.
Kemenangan ini mungkin tak akan masuk daftar laga terbaik Inter musim ini. Namun, di turnamen gugur seperti Coppa Italia, yang dicari bukan selalu keindahan, melainkan kelolosan. Dan Inter melakukannya.
Di semifinal, Nerazzurri tinggal menunggu pemenang duel Napoli versus Como. Satu hal pasti: Inter masih melangkah. Dan kadang, itu sudah lebih dari cukup. (*)






Tinggalkan Balasan