SOPPENG, Katasulsel.com — Senja Ramadan di Bumi Latemmamala, Minggu (8/3/2026), bukan sekadar soal menunggu azan Magrib. Di sekretariat DPD Partai NasDem Soppeng, suasana hangat buka puasa bersama berubah menjadi ruang temu para tokoh politik dan kepala daerah.
Agenda yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Soppeng ini menghadirkan sejumlah figur penting. Mulai dari anggota DPR RI Komisi V, Teguh Iswara Suardi, hingga dua kepala daerah: Bupati Soppeng Suwardi Haseng dan Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif.
Secara kasat mata, acara ini memang sederhana: buka puasa bersama. Namun di balik meja hidangan dan obrolan santai, terasa aroma lain—yang kerap disebut pengamat sebagai “silaturahmi politik”.
Ramadan, Waktu Favorit Konsolidasi
Momentum Ramadan memang sering dimanfaatkan partai politik untuk merawat jaringan dan memperkuat komunikasi. Suasana santai membuat percakapan politik terasa lebih cair, jauh dari formalitas rapat partai.
Ketua DPD NasDem Soppeng, Ade Irawan, sebelumnya menyebut agenda ini sebagai upaya mempererat hubungan antara partai, pemerintah daerah, dan masyarakat. Bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ruang komunikasi lintas elemen daerah.
Undangan pun tidak hanya datang dari kader partai. Tokoh masyarakat, unsur pemerintah, hingga insan pers ikut hadir. Artinya, forum ini menjadi semacam “ruang temu politik nonformal” yang sering melahirkan gagasan pembangunan daerah.
Kehadiran dua kepala daerah menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan tersebut.
Bupati Soppeng
Sementara Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif yang juga menjabat Ketua DPW NasDem Sulsel menegaskan pentingnya kerja sama antara kader partai dan pemerintah daerah. Menurutnya, selama kebijakan yang diambil bertujuan untuk kepentingan masyarakat, semua pihak harus saling mendukung.
Dari Bukber ke Agenda Pembangunan
Kehadiran anggota DPR RI Komisi V Teguh Iswara Suardi juga memberi warna tersendiri. Komisi yang membidangi infrastruktur dan transportasi ini sering menjadi pintu masuk program pembangunan dari pusat ke daerah.
Tak heran jika dalam diskusi ringan di sela-sela acara, pembicaraan tak melulu soal Ramadan. Topik pembangunan daerah, peluang program pusat, hingga sinergi lintas wilayah juga ikut mencuat.
Di dunia politik, pertemuan seperti ini sering disebut sebagai “soft diplomacy lokal”—forum santai, tetapi sarat makna strategis.
Menjelang azan Magrib, ratusan undangan akhirnya menikmati hidangan berbuka bersama. Doa penutup dipanjatkan, menandai berakhirnya acara yang bukan hanya mempererat ukhuwah Ramadan, tetapi juga memperkuat simpul komunikasi politik di Sulawesi Selatan. (*)

Tinggalkan Balasan