Wajo, katasulsel.com – Tidak ada aba-aba panjang. Tidak pula pidato bertele-tele. Bupati Wajo Andi Rosman langsung memutar tuas paling sensitif dalam birokrasi: rotasi pejabat eselon II.
Sekali putar, belasan kursi bergeser. Ada yang naik, ada yang pindah, ada pula yang harus menyesuaikan diri dengan ruang kerja baru.
Lapangan upacara Kantor Bupati Wajo menjadi saksi. Pagi itu, struktur pemerintahan tak lagi sama seperti kemarin. Mesin birokrasi di-reset.
Rotasi ini bukan kosmetik. Bukan pula sekadar penyegaran. Ini reposisi besar-besaran. Pesannya sederhana tapi keras: yang tidak seirama, jangan berharap lama di kursi empuk.
“Ini bukan karena Pilkada,” kata Andi Rosman singkat.
Kalimat pendek. Tapi maknanya panjang.
Kursi Diputar, Nama Bergeser
Dalam sekali tarikan napas, sejumlah pejabat kunci dipindahkan ke pos baru. Asisten, staf ahli, kepala dinas, hingga sekda legislatif ikut masuk daftar rotasi.
Nama-nama yang kini menempati posisi baru antara lain:
Ahmad Jahran dipercaya sebagai Asisten III
Ambo Mai mengisi Asisten I
Soni Paisal bergeser menjadi Staf Ahli Bidang Hukum
A. Ismirar Sentosa menempati kursi Sekretaris DPRD
H. Dahlan memimpin Inspektorat
Alamsyah mengendalikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Andi Pameneri ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Sainal Hayat ke Perumahan dan Kawasan Permukiman
Andi Musdalifah memegang Kominfo
Dwi Aprianto mengurus DPMPTSP
Andi Cakunu di Dinas Perikanan
Muhammad Ilyas di Bappelitbangda
Andi Pallawarukka di BPKPD
Andi Hasanuddin di Kesbangpol
Syamsul Bahri di BKPSDM
Belum berhenti di situ. Sejumlah OPD bahkan masih dibiarkan kosong, hanya diisi Pelaksana Tugas. Totalnya sekitar 11 jabatan. Sengaja dikosongkan. Akan diisi lewat lelang jabatan.
Artinya jelas: tidak semua kursi langsung dipercayakan.
Rotasi sebagai Bahasa Kekuasaan
Dalam birokrasi, rotasi adalah bahasa kekuasaan yang paling mudah dipahami. Tidak perlu marah. Tidak perlu ancam. Cukup geser kursi.
Andi Rosman tampaknya paham betul itu.
Rotasi ini sekaligus memberi sinyal ke dua arah.
Ke dalam: ASN diminta bekerja, bukan sekadar aman.
Ke luar: pemerintahan tidak dikendalikan oleh warisan lama.
Tak ada jabatan yang benar-benar nyaman. Hari ini kepala dinas, besok bisa staf ahli. Semua tergantung kinerja dan loyalitas pada visi bupati, bukan pada sejarah atau kedekatan.
Babak Awal, Bukan Akhir
Rotasi ini belum final. Justru ini baru babak pembuka.
Dengan masih banyak kursi kosong, gelombang berikutnya tinggal menunggu waktu.
Birokrasi Wajo kini masuk fase baru: fase uji nyali dan uji kerja.
Siapa cepat menyesuaikan, bertahan.
Siapa lambat, siap-siap kembali diputar.
Mesin sudah dinyalakan.
Dan ketika mesin birokrasi mulai bergetar, yang lemah biasanya terlempar lebih dulu.(*)






Tinggalkan Balasan