Sidrap, katasulsel.comMasyarakat dan bupati di daerah ini benar-benar tak ada sekat. Tengah malam pun, nekat nge-chat ke Syaharuddin Alrif, bupati Sidrap.

Nama whatsappnya tertulis dari: Ndy Mr. Balap Cross Talumae.

Dia adalah petani asal Kecamatan Watang Sidenreng.

Tengah malam yang sepi itu, ia tampak “kegirangan”—bahkan tak ragu langsung mengabarkan hasil panennya ke orang nomor satu di daerah itu, Senin, 30 Maret 2026.

Pesannya sederhana, tapi penuh rasa bangga. Hasil panen dari lahan 1,5 hektare tembus 110 karung. Jika dirata-rata 125 kilogram per karung, totalnya lebih dari 13 ton. Angka yang dalam bahasa petani disebut: “panen tebal”.

Yang bikin suasana makin “pecah”, harga gabah disebut berada di kisaran Rp7.300 per kilogram. Hitung-hitungan cepat langsung mengarah ke angka Rp100 jutaan untuk satu kali panen.

Advertisement

Di titik itu, percakapan berubah jadi euforia.

“Alhamdulillah,” begitu kira-kira respons yang datang dari sang bupati. Singkat, tapi hangat. Namun ada satu kalimat lanjutan yang justru jadi sorotan: “Jangan lupa bayar zakatnya.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi punya makna dalam. Di tengah lonjakan hasil dan harga yang memuaskan, ada pengingat bahwa rezeki juga punya hak orang lain di dalamnya.

Di grup percakapan yang sama, hitungan terus bergulir. Setelah dikurangi biaya operasional sekitar Rp15 juta, sisa bersih mencapai Rp85 jutaan. Jika dibagi dalam satu siklus tanam empat bulan, penghasilan per bulan bisa menyentuh Rp21 juta lebih—angka yang membuat banyak orang di luar sektor pertanian ikut melirik.

Namun di balik kegembiraan itu, tetap ada realitas yang diselipkan petani. Infrastruktur jadi catatan. Akses jalan tani masih diharapkan lebih baik agar distribusi hasil panen bisa lebih cepat dan efisien.

Artinya, euforia ini bukan tanpa catatan kaki.

Advertisement

Fenomena petani “langsung chat bupati” ini juga mencerminkan hal lain: kedekatan emosional antara pemimpin dan masyarakatnya. Tak ada sekat formalitas, yang ada justru komunikasi cair—bahkan di momen panen.

Dan di tengah semua itu, satu narasi besar muncul: pertanian bukan lagi sektor yang identik dengan kesulitan semata. Dalam kondisi tertentu, dengan pola tanam yang tepat dan harga yang mendukung, sawah bisa jadi sumber kesejahteraan yang nyata.

Musim panen kali ini bukan hanya soal angka. Ini tentang rasa syukur, tentang komunikasi yang hidup, dan tentang harapan bahwa kesejahteraan petani bukan lagi sekadar wacana.

Selebihnya, seperti kata bupati: jangan lupa zakatnya. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.